Ingin putus peredaran hoaks, Mafindo bidik "emak-emak"

id Mafindo,Hoaks

Ketua Mafindo Septiaji Nugroho di Jakarta, Rabu (7/8) (Agita Tarigan)

Jakarta (ANTARA) - Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) akan menyasar para "emak-emak" menjadi agen penyebar fakta untuk memutus peredaran kabar bohong atau hoaks.

"Perlu dipahami, 'emak-emak' adalah salah satu unsur penyebar hoaks," ungkap Ketua Mafindo Septiaji Nugroho di Jakarta, Rabu.

Untuk mengubah kebiasaan para itu, Septiaji mengaku memiliki strategi khusus. Mafindo, kata dia, bakal mengenalkan hoaks sambil melakukan kegiatan yang biasanya digemari "emak-emak", salah satunya dengan membuat acara memasak.

"Emak-emak itu karakteristiknya sangat 'concern' pada keamanan keluarga. Makanya saat kegiatan itu, kita berikan informasi yang berhubungan langsung dengan keluarga," jelas dia.

"Kita lebih angkat hoaks yang pernah ada, kayak isu makan lele bisa sebabkan kanker dan isu makan buah dari negara tertentu bisa terkena Aids," jelas Septiaji.

Baca juga: Wali Kota Sukabumi ajak warganya perangi hoaks

Baca juga: Mau verifikasi berita? Tanya ke Chatbot Anti Hoaks

Baca juga: Polda Jabar tangkap penyebar berita bohong polisi buka kotak suara


Hoaks yang memuat isu-isu politik tentu tidak akan dibahas dalam kegiatan tersebut, karena tidak banyak "emak-emak" yang menaruh minat pada dunia eksekutif, yudikatif, dan legislatif, ujar dia.

Dia memprediksi kelak langkah pengenalan itu akan meningkatkan kepedulian "emak-emak" terhadap peredaran hoaks, sehingga lebih selektif dalam menyebarkan informasi.

Selain menggaet "emak-emak", Mafindo juga akan mengedukasi generasi muda untuk ikut serta melawan peredaran kabar bohong.

"Anak muda memang bukan penyebar hoaks, tapi mereka banyak yang apatis. Kalau ini terus begitu akan sayang sekali. Apalagi Indonesia sebentar lagi akan ada bonus demografi," ungkap Septiaji.

Menurut dia, rangkaian kegiatan yang dikemas dengan tema "Stop Hoax Indonesia" tersebut akan mulai diselenggarakan pada Agustus hingga akhir 2019, di 17 kota di Indonesia.

 

Pewarta : Agita Tarigan
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar