Mataram, 23/3 (ANTARA) - Belasan orang mahasiswa Universitas 45 Mataram hingga Rabu (23/3) masih menguasai gedung rektorat meski sehari sebelumnya salah seorang aktivis dianiaya sekelompok orang tidak dikenal.

         Aksi menduduki gedung rektorat kampus yang bertujuan menuntut H. M. Sabidin Rifainy turun dari jabatannya sebagai rektor itu sudah berlangsung sepekan  sejak Kamis (17/3).

         Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas 45 Mataram Helmony menegaskan para mahssiwa tidak akan keluar dari gedung rektorat sampai pihak yayasan memenuhi tuntutan tersebut.

         "Kami tidak akan keluar dari gedung ini sampai tuntutan dipenuhi oleh yayasan. Apalagi ada rekan kami yang dianiaya dari orang-orang yang tidak dikenal," ujarnya.

         Ia menegaskan, aksi menduduki gedung rektorat itu tidak menggangu aktivitas perkulihaan.

         Para mahasiswa tetap menggelar aksi hingga  H. M. Sabidin Rifainy mundur dari jabatannya karena dinilai tidak mampu mengelola kampus, terlebih lagi yang bersangkutan diduga menyelewengkan dana mahasiswa.

         "Kami punya bukti tertulis dan rekaman pembicaraan yang mengarah kepada dugaan penyelewengan dana yang dikeluarkan  mahasiswa," ujarnya.

         Belasan orang mahasiswa yang menduduki gedung rektor juga menulisi lantai kampus dengan tuntutan H. M. Sabidin Rifainy mundur dari jabatannya.

         Tulisan itu tidak hanya di lantai, tetapi juga  papan tulis putih  tidak luput dijadikan  sarana menuliskan tuntutan mereka, bahkan nama rektor, pembantu rektor II dan III  yang ada di papan struktur organisasi ditutup dengan cat warna merah.

         Selain itu, seluruh ruangan yang ada di gedung rektorat  dijadikan sebagai ruang tidur oleh para mahasiswa.

         Mahasiswa juga mendirikan tenda di halaman kampus. Mereka menaikkan bendera lambang Universitas 45 Mataram setengah tiang sebagai tanda berduka atas insiden penganiayaan terhadap Ketua BEM Fakultas Perikanan Atharuddin (21) yang dilakukan belasan orang yang tidak dikenal.

         Sekelompok orang yang diduga preman nekat memasuki kampus Universitas 45 Mataram, Selasa siang (22/3), kemudian menganiaya Atharuddin yang tengah berunjuk rasa di lingkungan kampus.

         Aksi menuntut rektor mundur dari jabatannya itu merupakan aksi yang kesekian kalinya. Meski demikian pihak yayasan belum mau memenuhi tuntutan mahasiswa. (*)