Mataram, 24/3 (ANTARA) - Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengimbau masyarakat, khususnya warga di Kabupaten Lombok Utara (KLU), mewaspadai kemungkinan terjadinya wabah penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan cikungunya akibat gigitan nyamuk 'aedes aegypti' dan 'aedes albopictus'.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. H Mochammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Selasa, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian di sejumlah kecamatan di KLU tingkat populasi nyamuk cukup tinggi termasuk nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus yang menyebabkan penyakit DBD dan cikungunya.
"Selama Februari terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) cikungunya di dua kecamatan di KLU, yakni Kecamatan Tanjung dan Gangga, dengan 456 kasus dan setelah ditangani kini semakin berkurang," katanya didampingi sejumlah Kepala Bidang (Kabid) di lingkungan Dinkes NTB.
Selain di dua kecamatan di KLU, kasus cikungunya juga terjadi di Kecamatan Lingsar, Gunungsari dan Sekotong, namun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Ia mengatakan, meningkatnya jumlah penderita cikungunya di KLU tersebut kemungkinan akibat berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus pada genangan air di sawah atau kebun saat musim hujan sekarang ini.
Untuk mencegah kian meluasnya wabah ckungunya di KLU telah dilakukan abatisasi dam pengasapan (fogging) di tempat-tempat yang banyak ditemukan vektor nyamuk tersebut guna mencegah perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk dan pembersihan lingkungan.
Ia mengatakan, KLB cikungunya di KLU tidak sampai menyebabkan penderita meninggal dunia, namun meresahkan karena mengakibatkan kaki lemas dan terjadi lumpuh selama beberapa hari.
Sementara kasus DBD di NTB dalam kurun waktu lima tahun (2004-2008) tertinggi pada tahun 2005 yang mencapai 1.062 kasus, tercatat 15 orang meninggal dunia, meningkat dibandingkan dengan tahun 2004 sebanyak 805 kasus, 16 orang meninggal dunia.
Sedangkan pada 2006 menurun menjadi 623 kasus, empat meninggal dunia, dan kembali meningkat pada 2007 sebanyak 720 kasus, dua orang meninggal dunia. Pada 2008 meningkat lagi menjadi 777 kasus, empat orang meninggal dunia.
"Karena itu, kami akan terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk mencegah munculnya wabah DBD maupun cikungunya dengan melakukan abatisasi dan pengasapan serta mengajak masyarakat untuk membersihkan lingkungan terutama genangan air yang menjadi tempat berkembangbiaknya jentik nyamuk," katanya menambahkan.(*)