Jakarta (ANTARA) - Kabar meninggalnya Mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menjadi duka mendalam tak hanya bagi masyarakat Jepang, namun juga dunia. Pria 67 tahun itu wafat setelah menjadi korban penembakan di Kota Nara, dekat Stasiun Yamato-Saidaji, Jumat (8/7).

Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak terselamatkan. Ucapan belasungkawa dan pengakuan kehilangan sosok pria karismatik tersebut membanjiri berbagai platform.  Duka mendalam juga dirasakan pelaku olahraga karena Abe adalah tokoh yang berjasa besar kepada olahraga dengan karya terbesarnya menjadikan Tokyo tuan rumah Olimpiade 2020.

Abe memiliki peran strategis membawa pesta olahraga terbesar di dunia tersebut ke Negeri Sakura setelah kali terakhir menjadi tuan rumah pada 1964. Jepang mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 pada sidang Komite Olimpiade Internasional (IOC) ke-125 di Buenos Aires, Argentina pada 2013.

Abe terbang ke Argentina dari KTT G20 di St Petersburg, Rusia, untuk berbicara dengan anggota IOC. Dia berusaha meyakinkan semua orang dalam forum itu bahwa Jepang siap dan layak menjadi tuan rumah Olimpiade di tengah ketakutan atas insiden ledakan reaktor nuklir Fukushima yang kala itu belum lama terjadi.

Upaya Abe membuahkan hasil. Tokyo mengalahkan Istanbul di Turki dan Madrid di Spanyol dalam bidding tuan rumah Olimpiade edisi ke-32 dan Paralimpiade edisi ke-16. Momen tersebut menjadi penting dan bersejarah, bahkan Tsunekazu Takeda yang Kepala Komite Olimpiade Jepang pada saat pemungutan suara, memuji peran Abe dalam memenangkan hak tuan rumah untuk Jepang.

"Dia benar-benar memimpin kami dari depan. Dia sungguh memberi kami kekuatan lewat pidatonya itu di Buenos Aires," kata Takeda seperti dikutip Kyodo News.


 Super Mario

Tak sampai di situ, momen paling diingat oleh masyarakat olahraga dunia adalah ketika penutupan Olimpiade Rio de Janeiro di Brazil pada 2016. Kala itu, Abe menjadi bintangnya. Dalam acara tersebut, layar besar menyuguhkan teaser Tokyo sebagai tuan rumah Olimpiade 2020.

Kemudian, skenario beralih kepada Abe yang diceritakan hendak bertolak dari Jepang ke Brazil. Dalam perjalanan, Abe menyadari waktu tidak cukup. Abe sontak berubah menjadi Super Mario, karakter Nintendo yang populer itu. Layaknya karakter yang ada dalam gim tersebut, dia menggunakan keahlian agar bisa ke Brazil melalui jalan pintas.

Abe yang berubah menjadi Super Mario kemudian berlari kencang menuju Perempatan Shibuya yang fenomenal di Jepang. Super Mario Abe kemudian bertemu dengan tokoh Doraemon, kartun buatan Jepang, untuk masuk ledeng.

Sembari menenteng bola berwarna merah, Super Mario Abe menembus dunia dari Jepang untuk tiba di Brazil. Kemudian, dia muncul di tengah Stadion Maracana yang menjadi lokasi penutupan Olimpiade Rio de Janeiro.

Pada momen tersebut, Abe memegang bola berwarna merah dan mengangkat topi merah, kemudian menunjukkan kepada dunia bahwa Jepang adalah tuan rumah Olimpiade 2020. Momen tersebut menjadi kenangan indah bagi rakyat Jepang, bahkan setelah Abe dinyatakan wafat cuplikan video tersebut bertebaran di media sosial.

Perjalanan Tokyo menyelenggarakan Olimpiade 2020 ternyata menghadapi ujian berat. Abe sempat membatalkan desain awal Stadion Nasional di Jepang karena dikritik luas oleh masyarakat. Tak berhenti di situ, Abe dan IOC juga harus membuat keputusan sulit, menunda Olimpiade dan Paralimpiade selama satu tahun setelah pandemi COVID-19 melanda dunia.

"Menjadi tuan rumah Olimpiade bisa jadi sulit jika tidak ada penundaan. Kami hanya bisa bergerak jika perdana menteri membuat keputusan. Itu keputusan yang sangat tepat," kata Kepala Eksekutif Olimpiade Tokyo 2020 Toshiro Mut.

Sayang, ketika Olimpiade Tokyo bergulir 23 Juli-8 Agustus 2021, Abe sudah tidak terlibat. Bahkan, dia tidak hadir dalam upacara pembukaan karena lebih dulu mengundurkan diri sebagai perdana menteri karena alasan kesehatan.

Pengakuan dunia

Meski begitu, dia mendapat pengakuan dari banyak pihak atas sumbangsih besarnya untuk Olimpiade Tokyo yang sukses itu. Presiden IOC Thomas Bach bahkan menyebut Abe orang yang memiliki visi, penuh tekad dan energi tak terbatas dalam mewujudkan visinya tersebut.

"Keterlibatan Abe sangat penting dalam membuat Panitia Penyelenggara Olimpiade Tokyo menjadi penyelenggara terbaik dari yang pernah ada. "Selama bertahun-tahun, Perdana Menteri Abe menjadi mitra kuat kami dan selalu membela kepentingan Jepang dan pada saat yang sama, dapat dipercaya. Dengan menunda Olimpiade Tokyo, kami dapat menemukan solusi. Bahkan dalam situasi yang paling sulit di tengah pandemi COVID-19," kata Bach.

Wakil presiden IOC John Coates yang bekerja erat dengan Abe dalam kapasitasnya sebagai ketua Komisi Koordinasi IOC untuk Olimpiade Tokyo 2020 mengatakan hal senada dengan Bach. "Shinzo Abe adalah sahabat Gerakan Olimpiade. Tanpa komitmen Shinzo Abe, keputusan menunda Olimpiade selama satu tahun dalam menghadapi pandemi global tidak akan terjadi. Semua atlet dunia yang berpartisipasi dalam Olimpiade Tokyo 2020 selamanya berutang budi kepada dia," katanya.

Pun demikian dengan Presiden Komite Paralimpiade Internasional Andrew Parsons yang berbelasungkawa untuk Abe. "Pertama saya ingin mengatakan atas nama Komite Paralimpiade Internasional kami berduka cita untuk keluarga Shinzo Abe, rekan-rekannya, Komite Paralimpiade Jepang, semua orang di Tokyo 2020 yang bekerja dengannya, dan Jepang," kata Parsons.


Bukan hanya Olimpiade

Sebelum Olimpiade Tokyo 2020 bergulir, Abe juga berperan besar dalam menyukseskan sejumlah ajang besar di Jepang. Salah satunya, Piala Dunia Rugbi 2019.

"Kabar yang sangat memilukan tentang mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Dia tokoh yang memberi dukungan besar kepada Piala Dunia Rugby yang bersejarah di Jepang," kata ketua Rugby Dunia, Sir Bill Beaumont, dalam Inside The Games.

"Hati saya tertuju kepada keluarganya, teman-teman, dan orang-orang Jepang dalam momen yang menyedihkan ini," sambung dia.

Presiden Federasi Judo Internasional Marius Vizer juga mengungkapkan keluarga judo akan selalu berterima kasih kepada Abe atas dukungannya untuk olahraga dan Kejuaraan Dunia 2019 yang diadakan di Tokyo. "Kami sedih sekali mendengar peristiwa mengejutkan yang menyebabkan hilangnya Abe dan kami bersolidaritas dengan semua orang Jepang dalam saat-saat yang sulit ini," kata Vizer.

Sementara Presiden Komite Olimpiade Australia Ian Chesterman menyebut Abe telah menunjukkan kepemimpinan selama masa kritis di Jepang. "Kami sangat berduka atas meninggal dunianya Abe. Olimpiade Tokyo adalah sebuah kemenangan, memberikan harapan dan inspirasi untuk semua orang di seluruh dunia," kata dia.

"Keberhasilan Olimpiade sangat bergantung kepada visi dan ketekunannya. Kami tahu rasa kehilangan yang sangat besar yang dirasakan Jepang atas meninggalnya Perdana Menteri terlama dan seorang tokoh yang memberi begitu banyak kepada negaranya, kepada begitu banyak orang. Kepada rakyat Jepang, terimalah belasungkawa paling tulus kami." Begitu banyak orang yang kehilangan Abe. Warisan Abe terhadap dunia olahraga akan selalu dikenang. Terima kasih dan selamat jalan Abe!



 

 

Pewarta : Muhammad Ramdan
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024