IMF turunkan perkiraan pertumbuhan global 2023 jadi 2,7 persen
Rabu, 12 Oktober 2022 6:30 WIB
Arsip foto - Pejalan kaki dengan payung di dekat Gedung Markas Besar 2 IMF (HQ2) di Washington DC. ANTARA/Shutterstock/pri.
Washington (ANTARA) - Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (11/10/2022) memproyeksikan ekonomi global tumbuh sebesar 3,2 persen tahun ini dan 2,7 persen pada 2023, dengan revisi turun 0,2 persen poin untuk 2023 dari perkiraan Juli, menurut laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru.
Ekonomi global mengalami "sejumlah tantangan yang bergejolak," karena inflasi yang lebih tinggi daripada yang terlihat dalam beberapa dekade, pengetatan kondisi keuangan di sebagian besar wilayah, konflik Rusia-Ukraina, dan pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, semuanya sangat membebani prospek, kutip laporan itu.
"Ini adalah profil pertumbuhan terlemah sejak 2001 kecuali untuk krisis keuangan global dan fase akut pandemi COVID-19 dan mencerminkan perlambatan signifikan bagi ekonomi terbesar," tulis laporan tersebut.
Kontraksi dalam produk domestik bruto (PDB) riil yang berlangsung setidaknya selama dua kuartal berturut-turut (beberapa ekonom menyebut sebagai "resesi teknis") terlihat di beberapa titik selama 2022-2023 di sekitar 43 persen ekonomi, berjumlah lebih dari sepertiga dari PDB dunia, menurut laporan itu.
Memperhatikan bahwa risiko terhadap prospek tetap luar biasa besar dan ke sisi negatifnya, laporan WEO terbaru mengatakan bahwa kebijakan moneter dapat salah menghitung sikap yang tepat untuk mengurangi inflasi, lebih banyak guncangan harga energi dan pangan dapat menyebabkan inflasi bertahan lebih lama, dan pengetatan global dalam kondisi pembiayaan dapat memicu tekanan utang pasar negara berkembang yang meluas.
IMF memperingatkan bahwa fragmentasi geopolitik dapat menghambat perdagangan dan arus modal, yang selanjutnya menghambat kerja sama kebijakan iklim.
"Keseimbangan risiko cenderung menguat ke sisi negatif, dengan sekitar 25 persen peluang pertumbuhan global satu tahun ke depan turun di bawah 2,0 persen - dalam persentil ke-10 dari hasil pertumbuhan global sejak 1970," laporan itu mencatat.
"Risiko kesalahan kalibrasi kebijakan moneter, fiskal, atau keuangan telah meningkat tajam pada saat ketidakpastian tinggi dan kerentanan yang meningkat," kata kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas pada konferensi pers di Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia 2022 pada Selasa (11/10/2022).
"Kondisi keuangan global dapat memburuk, dan dolar menguat lebih lanjut, jika gejolak di pasar keuangan meletus," kata kepala ekonom IMF, mencatat bahwa ini akan menambah secara signifikan tekanan inflasi dan kerentanan keuangan di seluruh dunia, terutama di negara emerging markets dan negara berkembang.
Inflasi bisa, sekali lagi, terbukti lebih persisten, terutama jika pasar tenaga kerja tetap sangat ketat, kata Gourinchas. Akhirnya, perang di Ukraina masih berkecamuk dan eskalasi lebih lanjut dapat memperburuk krisis energi, tambahnya. IMF berpendapat bahwa pengetatan moneter yang ketat dan agresif adalah "penting" untuk menghindari de-anchoring inflasi.
"Kredibilitas bank sentral yang diperoleh dengan susah payah dapat dirusak jika mereka salah menilai lagi kegigihan inflasi yang membandel. Ini akan terbukti jauh lebih merusak stabilitas ekonomi makro di masa depan," kata Gourinchas, mendesak bank-bank sentral untuk tetap berpegang teguh pada kebijakan moneter yang secara tegas berfokus pada penjinakan inflasi.
Kepala ekonom IMF mencatat kebijakan fiskal seharusnya tidak bekerja dengan tujuan yang bersilangan dengan upaya otoritas moneter untuk menurunkan inflasi. "Melakukan hal itu hanya akan memperpanjang inflasi dan dapat menyebabkan ketidakstabilan keuangan yang serius, seperti yang diilustrasikan oleh peristiwa baru-baru ini," katanya.
Dalam laporan terbaru, IMF juga menyoroti bahwa krisis energi dan pangan, ditambah dengan suhu musim panas yang ekstrem, adalah pengingat yang "nyata" tentang seperti apa transisi iklim yang tidak terkendali.
Baca juga: IMF proyeksikan perlambatan ekonomi global terjadi hingga tahun 2023
Baca juga: Dolar AS menguat tipis, tunggu laporan inflasi utama
"Ada beberapa biaya melakukan transisi iklim di sisi ekonomi makro, biaya ini sangat, sangat moderat dibandingkan dengan biaya tidak melakukan transisi iklim," kata Gourinchas pada konferensi pers dalam menanggapi pertanyaan dari Xinhua.
Memperhatikan bahwa transisi iklim adalah proses "bertahap", Gourinchas mengatakan keuntungannya jauh lebih besar jika proses itu dimulai lebih awal. "Jadi ya, kita harus menghadapi krisis energi sekarang. Ya, sejumlah negara menghadapi situasi di mana mereka perlu mendapatkan lebih banyak energi untuk menghasilkan listrik selama musim dingin, dan lainnya. Tapi jalan yang harus kita mulai dalam hal transisi iklim adalah sesuatu yang tidak bisa kita abaikan juga," katanya.
Ekonomi global mengalami "sejumlah tantangan yang bergejolak," karena inflasi yang lebih tinggi daripada yang terlihat dalam beberapa dekade, pengetatan kondisi keuangan di sebagian besar wilayah, konflik Rusia-Ukraina, dan pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, semuanya sangat membebani prospek, kutip laporan itu.
"Ini adalah profil pertumbuhan terlemah sejak 2001 kecuali untuk krisis keuangan global dan fase akut pandemi COVID-19 dan mencerminkan perlambatan signifikan bagi ekonomi terbesar," tulis laporan tersebut.
Kontraksi dalam produk domestik bruto (PDB) riil yang berlangsung setidaknya selama dua kuartal berturut-turut (beberapa ekonom menyebut sebagai "resesi teknis") terlihat di beberapa titik selama 2022-2023 di sekitar 43 persen ekonomi, berjumlah lebih dari sepertiga dari PDB dunia, menurut laporan itu.
Memperhatikan bahwa risiko terhadap prospek tetap luar biasa besar dan ke sisi negatifnya, laporan WEO terbaru mengatakan bahwa kebijakan moneter dapat salah menghitung sikap yang tepat untuk mengurangi inflasi, lebih banyak guncangan harga energi dan pangan dapat menyebabkan inflasi bertahan lebih lama, dan pengetatan global dalam kondisi pembiayaan dapat memicu tekanan utang pasar negara berkembang yang meluas.
IMF memperingatkan bahwa fragmentasi geopolitik dapat menghambat perdagangan dan arus modal, yang selanjutnya menghambat kerja sama kebijakan iklim.
"Keseimbangan risiko cenderung menguat ke sisi negatif, dengan sekitar 25 persen peluang pertumbuhan global satu tahun ke depan turun di bawah 2,0 persen - dalam persentil ke-10 dari hasil pertumbuhan global sejak 1970," laporan itu mencatat.
"Risiko kesalahan kalibrasi kebijakan moneter, fiskal, atau keuangan telah meningkat tajam pada saat ketidakpastian tinggi dan kerentanan yang meningkat," kata kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas pada konferensi pers di Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia 2022 pada Selasa (11/10/2022).
"Kondisi keuangan global dapat memburuk, dan dolar menguat lebih lanjut, jika gejolak di pasar keuangan meletus," kata kepala ekonom IMF, mencatat bahwa ini akan menambah secara signifikan tekanan inflasi dan kerentanan keuangan di seluruh dunia, terutama di negara emerging markets dan negara berkembang.
Inflasi bisa, sekali lagi, terbukti lebih persisten, terutama jika pasar tenaga kerja tetap sangat ketat, kata Gourinchas. Akhirnya, perang di Ukraina masih berkecamuk dan eskalasi lebih lanjut dapat memperburuk krisis energi, tambahnya. IMF berpendapat bahwa pengetatan moneter yang ketat dan agresif adalah "penting" untuk menghindari de-anchoring inflasi.
"Kredibilitas bank sentral yang diperoleh dengan susah payah dapat dirusak jika mereka salah menilai lagi kegigihan inflasi yang membandel. Ini akan terbukti jauh lebih merusak stabilitas ekonomi makro di masa depan," kata Gourinchas, mendesak bank-bank sentral untuk tetap berpegang teguh pada kebijakan moneter yang secara tegas berfokus pada penjinakan inflasi.
Kepala ekonom IMF mencatat kebijakan fiskal seharusnya tidak bekerja dengan tujuan yang bersilangan dengan upaya otoritas moneter untuk menurunkan inflasi. "Melakukan hal itu hanya akan memperpanjang inflasi dan dapat menyebabkan ketidakstabilan keuangan yang serius, seperti yang diilustrasikan oleh peristiwa baru-baru ini," katanya.
Dalam laporan terbaru, IMF juga menyoroti bahwa krisis energi dan pangan, ditambah dengan suhu musim panas yang ekstrem, adalah pengingat yang "nyata" tentang seperti apa transisi iklim yang tidak terkendali.
Baca juga: IMF proyeksikan perlambatan ekonomi global terjadi hingga tahun 2023
Baca juga: Dolar AS menguat tipis, tunggu laporan inflasi utama
"Ada beberapa biaya melakukan transisi iklim di sisi ekonomi makro, biaya ini sangat, sangat moderat dibandingkan dengan biaya tidak melakukan transisi iklim," kata Gourinchas pada konferensi pers dalam menanggapi pertanyaan dari Xinhua.
Memperhatikan bahwa transisi iklim adalah proses "bertahap", Gourinchas mengatakan keuntungannya jauh lebih besar jika proses itu dimulai lebih awal. "Jadi ya, kita harus menghadapi krisis energi sekarang. Ya, sejumlah negara menghadapi situasi di mana mereka perlu mendapatkan lebih banyak energi untuk menghasilkan listrik selama musim dingin, dan lainnya. Tapi jalan yang harus kita mulai dalam hal transisi iklim adalah sesuatu yang tidak bisa kita abaikan juga," katanya.
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menko Perekonomian Airlangga optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia capai target pada 2024
06 February 2024 4:58 WIB, 2024
Presiden Jokowi sebut hampir separuh negara di dunia jadi "pasien" IMF
30 August 2023 15:01 WIB, 2023
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas Antam hari ini naik jadi Rp3,045 juta per gram, Jumat 27 Februari 2026
27 February 2026 11:20 WIB
Harga emas UBS hari ini Rp3,083 juta/gr dan Galeri24 Rp3,065 juta/gr, Jumat 27 Februari 2026
27 February 2026 8:58 WIB
Harga emas Antam hari ini naik jadi Rp3,039 juta/gram, Kamis 26 Februari 2026
26 February 2026 10:23 WIB
Harga emas UBS hari ini Rp3,082 juta/gr dan Galeri24 Rp3,057 juta/gr, Kamis 26 Februari 2026
26 February 2026 8:14 WIB
Perusahaan ABB sebut SDM investasi utama pengembangan teknologi otomatisasi
26 February 2026 6:11 WIB