Mataram (ANTARA) - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat membeberkan hasil identifikasi Laboratorium Forensik (Labfor) Bali terkait insiden kebakaran kapal tanker MT Kristin Surabaya pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina pada akhir Maret 2023 di Perairan Ampenan, Kota Mataram.

"Hasil identifikasi tim labfor sudah kami terima dengan kesimpulan bahwa penyebab kebakaran karena korsleting listrik setelah saklar ditekan," kata Kepala Bidang Humas (Kabid Humas) Polda NTB Kombes Pol Arman Asmara Syarifuddin di Mataram, Rabu.

Sesuai dengan hasil identifikasi, lanjut dia, lokasi saklar yang menjadi penyebab kebakaran itu berada di ruang haluan bagian kiri kapal. Saklar tersebut menghubungkan mesin kerek jangkar yang berada di sebelah kiri bagian "forecastle" atau mooring deck depan.

"Saklar itu yang menghubungkan ke kerek jangkar itu yang mengakibatkan adanya percikan api sehingga terjadi kebakaran," ucapnya.

Hasil labfor juga menyebutkan tidak ada ditemukan di lokasi kebakaran peralatan mekanik yang bisa menghasilkan panas secara berlebihan. Begitu juga dengan bahan kimia yang mudah terbakar.

"Jadi, tidak ditemukan proses bio kimia yang bisa menghasilkan panas, melainkan hanya menemukan bahan yang mudah menguap berupa BBM jenis Pertalite," ucap dia.

Dengan menyampaikan hasil demikian, labfor menyatakan bahwa penyebab insiden kebakaran itu bukan karena kelalaian manusia.

"Indikasi kebakaran-nya tidak karena manusia, melainkan karena korsleting listrik di bagian saklar kerek jangkar," katanya.

Dengan mendapatkan hasil demikian, Arman menegaskan bahwa proses penyelidikan dari kasus kebakaran ini belum mengarah ke perbuatan pidana.
Insiden kebakaran kapal tanker milik perusahaan jasa pengangkut PT Hanlyn Jaya Mandiri itu terjadi Minggu (26/3) sekitar pukul 14.45 WITA, ketika sedang menunggu antrean distribusi BBM di kawasan perairan Barat Pulau Lombok.

Rencananya, kapal yang mengangkut 5.900 kiloliter pertalite milik Pertamina tersebut akan melakukan pengisian di Depo Pertamina Ampenan, Kota Mataram.

Sebelum kobaran api dan kepulan asap terlihat mengitari kapal tanker, warga pesisir pantai sempat mendengar adanya suara ledakan.

Kabarnya, sebelum terjadi ledakan, ada sebanyak tiga ABK sedang bertugas menurunkan jangkar dari posisi geladak depan kapal.

Kapal tanker MT Kristin Surabaya ini pun diketahui mengangkut 17 ABK beserta kapten kapal dengan 14 orang selamat dan tiga orang meninggal dunia.

Jenazah tiga korban berhasil ditemukan di kawasan perairan Barat Pulau Lombok oleh tim terpadu. Penemuan jenazah berlangsung kurang dari sepekan pasca insiden terjadi pada Minggu (26/3).
 

Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024