Jakarta (ANTARA) - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Nur Fuad Fauzi menyebut pemadaman kebakaran di Gunung Arjuno terkendala ketinggian dan angin kencang.
 

"Pertama, ketinggian yang cukup tajam dan sulit dijangkau, yang kedua embusan angin kencang di lereng. Angin sangat liar sehingga api cepat menyebar," ujar Nur dalam acara daring Teropong Bencana BNPB diikuti di Jakarta, Rabu (30/8) malam.

Nur Fuad mengatakan bahwa kawasan yang terdampak kebakaran taman hutan rakyat yang berada di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Kebakaran di lokasi yang merupakan wilayah administrasi Kabupaten Malang sudah dapat dijinakkan pada hari Selasa (29/8). Akan tetapi, titik api terlihat kembali ke Kabupaten Malang karena angin merambatkan api "Lokasinya sangat jauh dari permukiman sehingga banyak yang terbakar adalah ilalang," kata Nur Fuad.

Upaya yang saat ini, pihaknya bersama TNI/Polri mencegah titik api merembet di lereng Gunung Arjuno. Selain itu, penegakan hukum diupayakan bagi terduga pelaku perburuan liar yang dengan sengaja menyebabkan kebakaran.

BPBD Kabupaten Malang juga berkoordinasi dengan pihak berwenang setempat untuk mengimbau masyarakat pencinta alam menunda kegiatan pendakian atau perkemahan selama pemadaman berlangsung.

Akibat adanya aktivitas perburuan liar tersebut, terjadi kebakaran hutan dan lahan, tepatnya berada di petak 116 B, Resor Pemangku Hutan (RPH) Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari.

Tahura Raden Soerjo merupakan rumah bagi sejumlah satwa, di antaranya adalah monyet ekor panjang, elang Jawa, kera hitam, landak, ular sawah, ayam hutan, kutilang, tupai, alap-alap jambul, dan alap-alap tikus atau putih.

Aktivitas perburuan liar ditengarai untuk lokalisasi satwa dan memudahkan para pemburu. Titik api muncul pertama kali di Curah Sriti, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Sabtu (26/8) dini hari.

Baca juga: Info BMKG masyarakat Kalimantan agar mewaspadai kebakaran hutan dan lahan
Baca juga: Penyebab kebakaran lahan TNGR Lombok akibat cuaca ekstrem

Berdasarkan pantauan Tahura Raden Soerjo pada hari Minggu (27/8), terdapat tujuh titik api yang berusaha dipadamkan oleh tim gabungan tersebut. Dari tujuh titik api tersebut, saat ini sudah berkurang dan menyisakan dua titik yang masih dalam upaya pemadaman.

 

 


Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024