Mataram (ANTARA) - Perkumpulan Seni Menduli Selayar, menggelar pemutaran film dokumenter tentang sajian Ritus Kebangru’an di Desa Telaga Waru, Pringgabaya, Lombok Timur pada 17 November 2023.

Film itu merupakan hasil penelitian perkumpulan tersebut bersama akademisi seni dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Yuga Anggana, dalam rangka mewujudkan pelestarian kebudayaan ritus asli dari Desa Telaga Waru.

“Film ini merupakan adaptasi dari hasil penelitian yang dilakukan Yuga sebelumnya, dan Yuga sendirilah yang kami gandeng sebagai sutradara dalam proses penggarapannya,” kata Akeu Surya Panji, Ketua Perkumpulan Menduli Selayar melalui siaran persnya yang diterima ANTARA NTB, Minggu.

Film pendek yang berdurasi sekitar 20 menitan tersebut memuat tentang bentuk sajian Ritus Kebangru’an sebagai pengetahuan tradisi masyarakat Desa Telaga Waru untuk terapi penyembuhan orang yang mengalami kesurupan. 

Tidak hanya menjabarkan seluruh rangkaian prosesi Ritus Kebangru’an, dalam film tersebut Yuga juga menjelaskan tentang sejarah, makna dan nilai kebermanfaatan Ritus Kebangru’an bagi kehidupan masyarakat. 

“Terdapat banyak kearifan dan nilai kebermanfaatan yang terkandung dalam ritus tradisi ini, selain sebagai media terapi ritus ini menjadi penguat integrasi masyarakat secara sosial. Dari hasil kajian saya, rasa kepedulian dan gotong royong muncul secara gamblang dalam gelaran ritus Kebangru’an," kata Yuga Anggana saat ditanya mengapa Ritus Kebangruan'an perlu diangkat menjadi sebuah film dokumenter.

Pemutaran film dokumenter "Ritus Kebangru'an" dihadiri oleh Kepala Desa Telaga Waru, Sekretaris Desa Telaga Waru, para tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta segenap warga Desa Telaga Waru yang terlibat dalam produksi film tersebut.

Sepanjang pemutaran film, peserta tampak antusias menyimak setiap rangkaian peristiwa dalam film, sesekali mereka tampak tersenyum seakan mengenang kembali pengalaman masa lampau mereka ketika menyaksikan Ritus Kebangru'an. Beberapa peserta bahkan sependapat bahwa mereka sudah lama tidak menemukan lagi fenomena Kebangru'an yang terjadi di sekitar mereka.

Selepas film berakhir ditayangkan, Akeu Surya Panji memberikan uraian singkat perihal makna filosofis dari instrumen musik yang digunakan dalam Ritus Kebangru'an. 

Berikutnya, Yuga Anggana bertutur perihal dukungan BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan) Wilayah XV yang mendanai produksi film dokumenter ini. Yuga juga turut menggandeng tim berisikan: Asmarani Pamela Paganini, Ziharul Ma'rifat, Jatisvara Mahardika, dan Yandre Dwi Saputra selama proses kreatif penggarapan film. 

Kepala Desa Telaga Waru, Muhammad Rohdi memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada tim produksi, kemudian mempersilakan para peserta untuk membagikan pengalaman mereka selaku saksi sejarah Ritus Kebangru'an.

Beberapa masukan dan saran terkait substansi film disampaikan oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir. Secara umum, mereka turut berbahagia karena kekayaan budaya di Desa Telaga Waru telah berhasil diabadikan dalam sebuah film. 


Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait isu pro-kontra dari sudut pandang adat dan agama terhadap Ritus Kebangru'an.

Diskusi tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa masyarakat menerima Ritus Kebangru'an sebagai warisan nenek moyang yang memiliki nilai sosial dan kebermanfaatan bagi masyarakat, sehingga layak untuk dipertahankan.

Menjelang akhir acara, Kepala Desa Telaga Waru menyampaikan ucapan terima kasih kepada tim produksi film dan Perkumpulan Seni Menduli Selayar yang telah berperan besar dalam upaya pelestarian ritus kebudayaan di wilayahnya. Tidak hanya itu, Beliau mengaku optimis jika impian Desa Telaga Waru sebagai wisata desa dan wisata budaya dapat tercapai.

Pewarta : ANTARA NTB
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024