Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan Kota Mataram, melakukan koordinasi dengan Bulog Provinsi Nusa Tenggara Barat, untuk memastikan ketersediaan stok beras di Kota Mataram untuk memastikan kesiapan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Kemarin (Kamis 16/2), kami sudah koordinasi dengan Bulog NTB untuk memastikan ketersediaan stok beras. Alhamdulillah, Bulog menyatakan stok beras di Kota Mataram dan NTB secara umum aman," kata Kepala Bidang (Kabid) Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida di Mataram, Jumat.

Berdasarkan data Bulog, lanjut Sri, stok beras yang tersedia untuk NTB saat ini 2.496.359 ton dan dalam waktu dekat stok beras akan masuk lagi sekitar 20.000 ton untuk menyambung masa panen berikutnya.

"Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok beras kita tersedia, aman, dan cukup," katanya.

Baca juga: Sebanyak 382,3 ton beras cadangan pangan didistribusikan di Mataram

Hal tersebut disampaikan Sri menyikapi keluhan masyarakat yang menyebutkan sekitar satu pekan terakhir ini stok beras di pasaran mulai berkurang sehingga memicu kenaikan harga.

Bahkan sejumlah retail modern yang biasanya menyiapkan beras medium sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp10.900 per kilogram, juga kosong.

Terkait dengan itu, untuk memastikan stok tercukupi, Sri meminta Bulog agar tetap melaksanakan pengiriman beras medium Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejumlah pasar tradisional yang telah ditetapkan.

Untuk di Kota Mataram, katanya, pendistribusian beras SPHP dilaksanakan pada 7 pasar tradisional dan hingga saat ini masih tetap berjalan.

Baca juga: Pemberian bantuan beras di Mataram berlanjut sampai Maret 2024

Tujuh pasar tradisional yang menjadi titik pendistribusian beras medium SPHP yang dijual sesuai HET Rp10.900 per kilogram antara Pasar Kebon Roek, Mandalika, Pagesangan, Sayang-Sayang, Pagutan, dan Pasar Sindu.

"Beras SPHP didistribusikan dua kali seminggu sesuai jumlah outlet Bulog di masing-masing pasar dengan kuota satu outlet mendapat 1 ton. Misalnya di Kebon Roek ada 19 outlet, maka sekali distribusi Bulog menurunkan 19 ton beras SPHP," katanya.

Sementara menyinggung tentang kenaikan harga beras saat ini, Sri mengatakan, kenaikan harga beras yang dikeluhkan masyarakat adalah beras jenis premium di pasar mencapai Rp16.000 per kilogram hingga Rp17.000 per kilogram.

Kenaikan beras itu terjadi karena perubahan pola taman akibat anomali cuaca terutama di Pulau Sumbawa dan Kabupaten Lombok Tengah sebagai penghasil beras terbesar.

"Pola taman mundur secara otomatis berdampak pada masa panen mundur. Panen yang diprediksi bulan Maret, mundur jadi April atau Mei," katanya.

Namun yang perlu diketahui, bahwa pemerintah sudah memfasilitasi menyiapkan beras medium dengan harga sesuai daya beli masyarakat yakni Rp10.900 per kilogram dengan batas maksimal pembelian 10 kilogram.

"Tapi jika masyarakat ingin beli beras premium, itu di luar kendali kami sebab semua pilihan ada di masyarakat," katanya.
 

Pewarta : Nirkomala
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2024