Gorontalo (ANTARA) - Dua kecamatan di Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo terisolasi dan akses di wilayah tersebut terputus total sebagai akibat longsor yang terjadi Kamis (7/3).

Dua kecamatan yang terisolasi tersebut adalah Kecamatan Biau dan Kecamatan Tolinggula. Akses dari dan ke wilayah barat kabupaten tersebut terputus total, karena empat titik longsor di Desa Lelato, Kecamatan Sumalata belum tuntas dibersihkan dari material longsor berupa tanah dan bebatuan.

"Alat berat sementara bekerja membersihkan longsor. Ada empat titik longsor yang harus segera dibersihkan, sebab kendaraan dari dan ke wilayah tersebut belum dapat melintas," kata Penjabat Bupati Gorontalo Utara Sila Botutihe di Gorontalo, Jumat.

Ia mengapresiasi pihak-pihak yang telah membantu memberi dukungan bantuan alat berat untuk membersihkan longsor. "Kita berdoa hari ini tidak hujan agar memudahkan pembersihan longsor," kata Sila.

Ia mengapresiasi bantuan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang terus berada di lokasi tanah longsor untuk mendukung percepatan proses pembersihan.

Kepala Desa Kasia, Kecamatan Sumalata Andri Usu mengatakan hingga saat ini masyarakat belum dapat menjangkau wilayah Kecamatan Biau dan Tolinggula.

Antrean kendaraan yang akan menuju Biau dan Tolinggula masih terjadi, termasuk kendaraan lintas Sulawesi yang akan menuju Buol dan kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Tengah.

"Kami berharap longsor segera dibersihkan. Mengingat kondisi ini sangat menyulitkan dari berbagai aspek, seperti ada mayat yang akan dibawa ke Kecamatan Biau, terpaksa harus diseberangkan melalui laut dengan risiko tinggi," katanya.



Masyarakat, kata Andri, berterima kasih kepada pihak pemilik alat berat yang terus mengerjakan pembersihan longsor. "Termasuk Pak Dandim 1314 yang terus mengawasi pembersihan longsor mulai dari Desa Kikia hingga Lelato," katanya.

Longsor di Desa Sembihingan, Kecamatan Biau masih terjadi dan dikhawatirkan berdampak pada putusnya akses jalan di lintas Sulawesi tersebut.


Baca juga: Memetik makna dari nestapa bencana alam

Pewarta : Susanti Sako
Editor : Ahmad Khaerul Arham
Copyright © ANTARA 2024