Mataram (ANTARA) - Seperti diketahui, bulan suci Ramadhan 1445 H kali ini harus terusik dengan rencana hadirnya film bergenre horor full kontroversi. Adalah film berjudul "Kiblat" yang diproduksi oleh Leo Pictures dengan bekerja sama dengan Legacy Pictures dan 786 Production, dimana youtuber tenar Ria Ricis menjadi salah satu pemain di dalamnya, harus menerima kritikan berbagai pihak.

Salah satunya dari Tokoh Ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI Bidang Dakwah KH Cholil Nafis, secara tegas memprotes keras film tersebut. Secara blak-blakan ia menyebut alasan utama mengapa film tersebut ‘wajib’ dilarang tayang di bioskop Indonesia.

Menurutnya, film tersebut dianggap melakukan kampanye hitam terhadap salah satu ajaran agama.

Ketegasan KH Cholil bukan tanpa alasan, bahkan memantik reaksi yang sama di antaranya oleh senator terpilih yang menjadi peraih suara terbanyak se-nasional untuk pendatang baru perempuan. Adalah Dr. Lia Istifhama atau yang akrab disapa ning Lia. 

Perempuan yang dikenal sebagai aktivis ini, menegaskan dukungan kepada sikap MUI yang keras melarang penayangan film "Kiblat". Hal ini disampaikannya saat mengisi talkshow jelang berbuka puasa tentang parenting 'tontonan sehat' pasca viral film Kiblat di Balai Kota Surabaya, Selasa (26/3/2024).

"Gencarnya MUI yang dalam hal ini diwakili salah satu ulama kondang, yaitu KH Cholil Nafis untuk melarang penayangan Film ‘Kiblat’, adalah hal tepat demi karakter anak bangsa. Penghormatan terhadap nilai-nilai ibadah, adalah kebutuhan sekaligus kewajiban untuk menjaga character building generasi penerus bangsa. Jika agama tidak dihormati secara seharusnya, dampak sosialnya akan sangat bahaya terhadap bangsa ini," katanya.

Lebih lanjut, ia mengaku sebagai seorang ibu, gerah dengan adegan yang ditayangkan dalam film ‘Kiblat’.

Sebagai seorang ibu, ia mengaku gerah. Betapa tidak? Film Kiblat memang menayangkan adegan seorang perempuan mengenakan mukenah dan mempraktekkan gerakan ibadah shalat. Tepat pada posisi rukuk, tiba-tiba kepalanya berputar dan mengarah berlawanan dengan kiblat, dengan suara jeritan kesakitan. Ini kan sangat mengerikan dan sadis. Naudzubillah min dzalik.

“Sangat tidak layak dan tidak patut dimaklumi. Karena gerakan sholat rukuk menandakan penghambaan kita kepada sang Pencipta. Kita pun harus khusyu memahami makna bacaan "Subhana rabbiyal 'adhimi wa bihamdihi", yang berarti “Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan Maha Terpuji. Tapi kenapa di tengah kesucian jiwa dan hati, malah muncul imajinasi adegan yang keji dan mengerikan?” ucapnya.

Keponakan Khofifah yang dikenal sebagai aktivis cantik itu, juga mengutip pesan dari seorang ulama Mesir, Yusuf al-Qaradawi

yakni Ibadah adalah puncak ketundukan yang yang tertinggi yang timbul dari kesadaran hati sanubari dalam rangka mengagungkan yang disembah. 

"Maka, ibadah seharusnya menjadi potret tunduknya hati kita, jiwa kita, bahwa kita ini hanyalah hamba Allah SWT," kata Ning Lia.

Di akhir, Ning Lia memberikan pesan kepada pihak yang terkait dalam film "Kiblat".

“Saya yakin, dengan riuhnya kontroversi film ‘Kiblat’ di tengah bulan suci Ramadhan, Insya Allah menjadi pintu terbukanya hati semua pihak agar semakin menjaga marwah dan kemuliaan ibadah. Saya sendiri, ini tidak terfokus pada film ‘Kiblat’, tapi juga film ‘Makmum’ dan lainnya yang menampilkan adegan menakutkan di tengah ibadah. Dampaknya jelas, membuat penonton terhalusinasi saat melaksanakan ibadah.”

“Bahkan, masih banyak film lainnya yang menceritakan betapa horornya kehidupan pesantren. Ini semua sangat disayangkan, karena pesantren adalah lembaga pendidikan dan tempat anak-anak mengasah karakter dan akhlak yang baik, selain menimba ilmu. Jadi tolong tidak usahlah, membuat imajinasi-imajinasi yang hanya membuat anak-anak takut mondok,” katanya mengakhiri.

 

 

 


Pewarta : ANTARA NTB
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2024