Legislator apresiasi kebijakan BI pertahankan suku bunga
Kamis, 17 Januari 2019 21:43 WIB
Anggota Komisi XI DPR Fraksi Gerindra dari daerah pemilihan NTB H Willgo Zainar. (Foto Antaranews NTB/ist)
Mataram, (Antaranews NTB) - Anggota Komisi XI DPR dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB) Willgo Zainar mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate, sebesar enam persen seiring kondisi ekonomi yang relatif stabil saat ini.
"Saya menyambut baik atas dipertahankannya kebijakan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate enam persen oleh Bank Indonesia," kata Willgo Zainar, melalui keterangan tertulis yang diterima di Mataram, NTB, Kamis.
Seperti diberitakan, BI mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen pada rapat dewan gubernur periode 16-17 Januari 2019, di tengah terjaganya stabilitas perekonomian terutama nilai tukar, sekaligus Bank Sentral ingin menjaga daya tarik instrumen keuangan di pasar domestik.
Menurut anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, kondisi saat ini memang relatif stabil, baik dari sisi global, regional dan nasional. Selain itu, tidak ada kebijakan external yang signifikan harus diantisipasi beberapa waktu ini.
Demikian juga dengan nilai tukar rupiah sudah relatif menguat, yakni di kisaran Rp14.000 per dolar Amerika Serikat karena tekanan global terhadap rupiah sudah berlalu.
"Rupiah saat ini sedang menuju siklus keseimbangan baru yang lebih stabil," kata pria kelahiran Ampenan, Kota Mataram, yang juga Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI tersebut.
Meskipun demikian, Willgo mengaku tetap mencermati kebijakan pemerintah terkait impor pangan dan barang modal dalam jumlah yang besar. Semua pihak juga perlu memasang sikap kehati-hatian atas kebijakan tersebut.
Pemerintah, menurut dia, harus membatasi impor pangan yang dapat menekan harga hasil produksi nasional.
Begitu juga dengan barang untuk infrastruktur yang tidak bisa diproduksi dalam negeri harus dikendalikan impornya.
Jika memang barang untuk infrastruktur tersebut ada di dalam negeri, sebaiknya itu yang dimanfaatkan. Sehingga defisit neraca transaksi berjalan bisa sesuai dengan angka yang ditargetkan BI sebesar 2,5 persen dari produk domestik bruto pada 2019.
"Investasi asing dalam surat berharga yang diterbitkan pemerintah juga harus tetap menjadi atensi. Idealnya harus tetap didorong lebih besar pada investor dalam negeri," katanya.
"Saya menyambut baik atas dipertahankannya kebijakan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate enam persen oleh Bank Indonesia," kata Willgo Zainar, melalui keterangan tertulis yang diterima di Mataram, NTB, Kamis.
Seperti diberitakan, BI mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen pada rapat dewan gubernur periode 16-17 Januari 2019, di tengah terjaganya stabilitas perekonomian terutama nilai tukar, sekaligus Bank Sentral ingin menjaga daya tarik instrumen keuangan di pasar domestik.
Menurut anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, kondisi saat ini memang relatif stabil, baik dari sisi global, regional dan nasional. Selain itu, tidak ada kebijakan external yang signifikan harus diantisipasi beberapa waktu ini.
Demikian juga dengan nilai tukar rupiah sudah relatif menguat, yakni di kisaran Rp14.000 per dolar Amerika Serikat karena tekanan global terhadap rupiah sudah berlalu.
"Rupiah saat ini sedang menuju siklus keseimbangan baru yang lebih stabil," kata pria kelahiran Ampenan, Kota Mataram, yang juga Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI tersebut.
Meskipun demikian, Willgo mengaku tetap mencermati kebijakan pemerintah terkait impor pangan dan barang modal dalam jumlah yang besar. Semua pihak juga perlu memasang sikap kehati-hatian atas kebijakan tersebut.
Pemerintah, menurut dia, harus membatasi impor pangan yang dapat menekan harga hasil produksi nasional.
Begitu juga dengan barang untuk infrastruktur yang tidak bisa diproduksi dalam negeri harus dikendalikan impornya.
Jika memang barang untuk infrastruktur tersebut ada di dalam negeri, sebaiknya itu yang dimanfaatkan. Sehingga defisit neraca transaksi berjalan bisa sesuai dengan angka yang ditargetkan BI sebesar 2,5 persen dari produk domestik bruto pada 2019.
"Investasi asing dalam surat berharga yang diterbitkan pemerintah juga harus tetap menjadi atensi. Idealnya harus tetap didorong lebih besar pada investor dalam negeri," katanya.
Pewarta : Awaludin
Editor : Dimas
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Uang pajak untuk bayar bunga utang negara, Jalan menuju kesejahteraan atau menjadi beban fiskal?
05 February 2026 10:52 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas UBS hari ini Rp2,998 juta/gr dan Galeri24 Rp2,981 juta/gr, Minggu 15 Februari 2026
15 February 2026 9:08 WIB
Harga emas Antam hari ini naik jadi Rp2,954 juta per gram, Sabtu 14 Februari 2026
14 February 2026 12:31 WIB
Harga emas UBS hari ini Rp2,961 juta per gr, Galeri24 Rp2,938 juta per gr, Sabtu 14 Februari 2025
14 February 2026 8:53 WIB