Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa ulama memiliki peran strategis sebagai penjaga optimisme, ketenangan batin, dan keteguhan masyarakat Aceh pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025 lalu.
DI menilai musibah besar yang dihadapi itu bukan hanya menguji ketahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga menguji mental dan spiritual umat.
"Di sinilah peran para ulama, para abu, para masyayikh, dan pimpinan dayah menjadi sangat menentukan dalam menenangkan umat dan menjaga optimisme rakyat Aceh,” ujar Muzani dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu.
Adapun pimpinan MPR RI menggelar silaturahmi dengan Ulama Aceh yang digelar di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Selasa (10/2).
Menurut dia, bantuan material dan pemulihan infrastruktur memang penting, tetapi menjaga harapan dan keyakinan masyarakat jauh lebih krusial agar Aceh tidak terjebak dalam keputusasaan pascabencana.
“Selama ulama terus membimbing umat dengan keteduhan dan kebijaksanaan, Aceh akan tetap tegak dan masa depannya tetap cerah,” katanya.
Dia menjelaskan kunjungan pimpinan MPR RI ke Aceh merupakan kunjungan kedua sebagai bentuk empati, solidaritas, dan dukungan moral kepada masyarakat Aceh.
Baca juga: Pimpinan MPR menegaskan pentingnya RUU Pengelolaan Perubahan Iklim
Pada kunjungan pertama, dia mengaku telah menyerap aspirasi kepala daerah terkait percepatan pembangunan hunian sementara, pemulihan jalan nasional dan provinsi, pemulihan listrik, serta kelancaran distribusi BBM dan gas LPG 3 kilogram.
“Seluruh aspirasi itu kami sampaikan langsung kepada Presiden sepulang dari Aceh. Alhamdulillah, satu per satu sudah mulai terpulihkan," kata dia.
Sejumlah hal yang telah pulih, di antaranya jalur Banda Aceh–Medan kembali membaik, akses antarwilayah tersambung, dan pasokan listrik telah pulih hingga 99 persen. Meski begitu, masih ada sekitar 23 desa yang membutuhkan penanganan lanjutan karena kondisi geografis yang berat.
Baca juga: KPK dalami modus 'uang hangus' kepada eks Sekjen MPR MC
Ia juga mengungkapkan sejumlah aspirasi lanjutan yang disampaikan Pemerintah Aceh, di antaranya permohonan agar pembiayaan BPJS Kesehatan bagi sekitar 500 ribu penerima manfaat dapat ditanggung melalui APBN, serta agar kuota BBM bersubsidi di Aceh untuk sementara tidak dibatasi guna mendukung operasional alat berat dalam percepatan pemulihan infrastruktur.
Selain itu, dia menyoroti pentingnya menjaga tradisi meugang menjelang Ramadhan sebagai bagian dari kearifan lokal dan budaya keagamaan masyarakat Aceh.
“Permintaan ini akan kami sampaikan kembali kepada Presiden. Kami memahami keterbatasan populasi ternak akibat bencana, tetapi dengan ikhtiar bersama," katanya.
Menjelang bulan suci Ramadan, dia menyampaikan bahwa pimpinan MPR RI juga menyerahkan bantuan berupa 15.000 paket sembako dan paket ibadah yang akan disalurkan ke delapan kabupaten terdampak. Bantuan tersebut berisi kebutuhan pokok serta perlengkapan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, kerudung, dan Al-Qur’an.
“Oleh-oleh ini bukan untuk menggantikan beban yang berat, melainkan sebagai tanda cinta, simpati, dan kebersamaan dari Jakarta untuk rakyat Aceh, agar Ramadhan dapat disambut dengan hati yang lebih tenang,” katanya.
Selain itu, dia juga menegaskan bahwa optimisme Aceh merupakan bagian dari optimisme bangsa Indonesia.
“Sakit Aceh adalah sakit kami yang berada di Jakarta. Selama kebersamaan antara pemerintah, ulama, dan masyarakat terus terjaga, Aceh akan mampu bangkit dan melewati ujian ini dengan lebih kuat,” katanya.