Mataram, 4/10 (ANTARA) - Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerja sama dengan Universitas Nagoya, Jepang, akan menciptakan alat pendeteksi penyakit malaria secara cepat yang disebut "rapid diagnostic kit" (RDK).
         Rektor Unram, H. Mansur Ma'sum, di Mataram, Minggu, mengatakan, Universitas Nagoya tertarik bekerja sama dengan Unram melakukan riset tentang alat pendeteksi malaria secara cepat karena  NTB memiliki potensi bahan baku yang dapat mendukung keberhasilan riset tersebut.
         "RDK yang selama ini dibuat masih mendatangkan bahan baku dari Amerika Serikat. Namun ternyata ada potensi bahan alam yang dimiliki NTB," katanya.
         Ia mengatakan, Riset tersebut rencananya akan dibiayai oleh Lembaga kerja sama Internasional jepang (JICA) dengan syarat kegiatan tersebut harus dilakukan di negara berkembang termasuk Indonesia.
         Menurut Ma'shum, keempat anggota tim yang akan merancang RDK tersebut yakni Dr. M. Ali dan Prof. Mulyanto dari Unram, serta Prof. Nakano dan Prof. Ujawa dari Universitas Nagoya. Mereka saat ini sedang menyusun proposal penelitian untuk diserahkan ke pihak JICA sebagai penyandang dana.
         "Keempat profesor itu sudah duduk bersama dalam arti sama-sama menyusun proposal penelitian yang akan disampaikan pada 11 November 2009. Ini merupakan batas akhir yang diberikan JICA," kata Ma'sum yang akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Rektor Unram pada akhir Oktober 2009.
         Ia mengatakan, program riset tentang penciptaan alat pendeteksi penyakit malaria secara cepat itu mendapat dukungan dari Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek), Dewan Riset Nasional (DRN) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).
         Menurut dia, dengan adanya riset itu akan memberikan dampak positif bagi dunia kesehatan terutama bagaimana cara mengetahui orang yang terkena penyakit malaria secara cepat terutama di NTB yang merupakan salah satu daerah rawan  malaria.
         Beberapa wilayah di NTB yang rawan penyakit malaria adalah Lombok Timur bagian selatan seperti di Kecamatan Jerowaru dan Keruak,  serta beberapa wilayah di Pulau Sumbawa.
         "Manfaat bagi Unram jika riset tersebut berhasil akan mampu meningkatkan kepercayaan dunia internasional sehingga mempermudah  kerja sama terutama dalam penyediaan dana penelitian.
         "Bagi dunia ilmu pengetahuan ini merupakan khasanah ilmu yang luar biasa karena penyakit malaria tidak saja berjangkit di daerah ini tetapi juga di seluruh dunia," katanya.
         Mengenai siapa yang berhak memiliki hak paten jika riset tersebut berhasil, Ma'shum mengatakan  pihaknya bersama Universitas Nagoya akan menegosiasikannya kembali setelah riset berhasil.
         "Kita tahu Jepang sangat cerdas soal hak paten hasil penelitian, tetapi kemarin mereka mengatakan kita akan menegosiasikannya bersama setelah riset berhasil," katanya. (*)