Sokola Institute meluncurkan buku "Melawan Setan Bermata Runcing"
Rabu, 30 Oktober 2019 20:22 WIB
Sokola Institute meluncurkan buku terbarunya "Melawan Setan Bermata Runcing: Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola" bercerita lahirnya metode dan pendekatan pendidikan Sokola yang terbentuk dari proses belajar dengan komunitas terutama kelompok masyarakat adat di kampus IPMI International Bussiness Institute, Jakarta, Rabu (30/10/2019). (Antara/Sokola Institute)
Mataram (ANTARA) - Sokola Institute meluncurkan buku terbarunya "Melawan Setan Bermata Runcing: Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola" yang bercerita tentang lahirnya metode dan pendekatan pendidikan Sokola yang terbentuk dari proses belajar dengan komunitas, terutama kelompok masyarakat adat.
"Tujuan akhir dari literasi yang Sokola Institute kerjakan ialah agar masyarakat adat dapat memecahkan persoalan keseharian yang mereka hadapi, khususnya saat berhadapan dengan 'orang luar'. Dan yang tidak kalah penting adalah agar masyarakat adat dapat mempertahankan identitas adat mereka," kata Butet Manurung, pendiri Sokola Institute, melalui siaran persnya yang diterima Antara di Mataram, Rabu.
Buku tersebut ditulis oleh beberapa anggota tim Sokola Institute, yakni Butet Manurung, Aditya Dipta Anindita, Dodi Rokhdian, Fadilla M Apristawijaya, dan Fawaz. Ilustrasi pada cover bukupun merupakan karya dari anggota tim Sokola Institute, yakni Oceu Apristawijaya.
Butet menjelaskan buku tersebut merupakan kumpulan pengalaman Sokola dalam mengembangkan program-program pendidikan sebagai upaya untuk membantu masyarakat adat menghadapi persoalannya. "Sembari tetap mempertahankan adat," katanya.
Buku setebal 260 halaman itu terbagi menjadi tujuh bab, yakni mengenai Sejarah Pendekatan Sokola oleh Dodi Rokhdian, Pendekatan Dialogis Sokola oleh Fadilla M Apristawijaya, Volunterisme oleh Aditya Dipta Anindita dan Butet Manurung, Memahami Komunitas oleh Dodi Rokhdian, Literasi Dasar oleh Butet Manurung, Literasi Terapan: Pendidikan Kontekstual dan Keberpihakan oleh Fawaz dan terakhir Kader, Organisasi dan Pengorganisasian oleh Aditya Dipta Anindita.
Diharapkan, melalui buku itu juga menjadi panduan bagi guru, relawan pengajar atau siapa saja yang bekerja di komunitas.
Peluncuran buku ini ditutup oleh penampilan teater “Panggung Bercerita: Beralas Bumi, Beratap Langit yang berceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Rimba di Bukit Duabelas Jambi.
Sementara itu, Wisnu Suryaning Adji, penulis buku Rahasia Salinem, mengaku melalui acara peluncuran buku tersebut, dirinya baru menyadari kalau kita yang mengaku "beradab" ini seringkali tidak lebih dari sombong.
"Acara ini benar-benar pas bisa mewakili bagaimana Sokola Rimba, serta membuat saya yang awam jadi tahu tentang masyarakat adat," katanya.
"Tujuan akhir dari literasi yang Sokola Institute kerjakan ialah agar masyarakat adat dapat memecahkan persoalan keseharian yang mereka hadapi, khususnya saat berhadapan dengan 'orang luar'. Dan yang tidak kalah penting adalah agar masyarakat adat dapat mempertahankan identitas adat mereka," kata Butet Manurung, pendiri Sokola Institute, melalui siaran persnya yang diterima Antara di Mataram, Rabu.
Buku tersebut ditulis oleh beberapa anggota tim Sokola Institute, yakni Butet Manurung, Aditya Dipta Anindita, Dodi Rokhdian, Fadilla M Apristawijaya, dan Fawaz. Ilustrasi pada cover bukupun merupakan karya dari anggota tim Sokola Institute, yakni Oceu Apristawijaya.
Butet menjelaskan buku tersebut merupakan kumpulan pengalaman Sokola dalam mengembangkan program-program pendidikan sebagai upaya untuk membantu masyarakat adat menghadapi persoalannya. "Sembari tetap mempertahankan adat," katanya.
Buku setebal 260 halaman itu terbagi menjadi tujuh bab, yakni mengenai Sejarah Pendekatan Sokola oleh Dodi Rokhdian, Pendekatan Dialogis Sokola oleh Fadilla M Apristawijaya, Volunterisme oleh Aditya Dipta Anindita dan Butet Manurung, Memahami Komunitas oleh Dodi Rokhdian, Literasi Dasar oleh Butet Manurung, Literasi Terapan: Pendidikan Kontekstual dan Keberpihakan oleh Fawaz dan terakhir Kader, Organisasi dan Pengorganisasian oleh Aditya Dipta Anindita.
Diharapkan, melalui buku itu juga menjadi panduan bagi guru, relawan pengajar atau siapa saja yang bekerja di komunitas.
Peluncuran buku ini ditutup oleh penampilan teater “Panggung Bercerita: Beralas Bumi, Beratap Langit yang berceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Rimba di Bukit Duabelas Jambi.
Sementara itu, Wisnu Suryaning Adji, penulis buku Rahasia Salinem, mengaku melalui acara peluncuran buku tersebut, dirinya baru menyadari kalau kita yang mengaku "beradab" ini seringkali tidak lebih dari sombong.
"Acara ini benar-benar pas bisa mewakili bagaimana Sokola Rimba, serta membuat saya yang awam jadi tahu tentang masyarakat adat," katanya.
Pewarta : Riza Fahriza
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wamendag Roro Esti mendorong dunia usaha manfaatkanperjanjian dagang global
05 October 2025 5:43 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
PLN NTB Dorong Literasi Kesehatan Anak Lewat Kolaborasi Mahasiswa Internasional
30 November 2025 23:16 WIB
Seni bercerita penting bagi komunikasi anak dan orang tua, kata Raffi Ahmad
16 November 2025 14:51 WIB
Ketua PBNU ajak santri & warga NU jangan kecil hati soal penghinaan pesantren
14 October 2025 15:34 WIB
Guru Besar IPB: Mega potensi ekowisata dimiliki Indonesia tak masuk unggulan Kabinet Merah-Putih
21 September 2025 8:38 WIB