Mataram (ANTARA) - Satu abad NU Adalah magnet yang berhasil menarik perhatian nasional. Memasuki abad kedua NU, kemandirian sebagai organisasi terbesar di Indonesia adalah visi utama untuk menjamin berjalannya roda organisasi. NU sebagai organisasi memiliki keteguhan untuk dapat merangkul semua kalangan, bukan malah memukul. Ini menjadi prasyarat utama.

NU yang digdaya Adalah NU yang mandiri. Kedigdayaan NU sebagai organisasi perlu mengoptimalkan kapital resource dan human resourch. Keduanya berhubungan untuk meningkatkan kualitas manusia melalui pengelolaan sumber daya alam yang kaya. Salah satu upaya dalam memandirikan ekonomi umat dewasa ini adalah dengan membuka akses seluas-luasnya bagi umat untuk berbisnis dengan tanpa mengesampingkan prinsip dasar berbisnisyangtertuangdi mabadi khairo ummah.

Di NTB misalnya, perlu adanya gerakan kemandirian yang dimulai dari pengurus wilayah. Semua bisnis hari ini sesungguhnya trennya adalah bisnis komunitas. Banyak kalangan menciptakan komunitas baru dalam rangka membuka sindikasi jaringan berbisnis.

Dalam perjalanannya, Kartanu tersebut juga hadir dalam bentuk e-Kartanu yang merupakan aplikasi mobile apps (semacam aplikasi yang bisa diunduh di ponsel) yang bisa digunakan oleh warga NU. Dalam e- Kartanu tersebut pelbagai fasilitas akan disediakan utamanya dalam menunjang bisnis warga NU.

Sebut saja misalnya kehadiran NUmart dan WarNU. Dua kanal tersebut bisa digunakan sebagai lahan bisnis berdagang bagi warga NU. Ini yang dalam bahasa saya disebut sebagai ”sudah terciptanya komunitas”.
Alakuli hal, dengan adanya Kartanudane-Kartanuini, PBNU sangat berkomitmen untuk mengawal kemandirian ekonomi umat sebagai sebuah khidmat untuk menuju tercapainya tatanan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan berkah. 

Merangkul, Bukan Memukul
NU di NTB misalnya, perlu menyikapi semua hal dengan rangkulan, bukan pukulan.  Bagi NU dan Nahdliyin, kemandirian adalah suatu keniscayaan. Pun sudah dilakukan sejak dulu. Membantu kedaulatan bangsa Palestina, misalnya, telah dilakukan bahkan semenjak Indonesia belum merdeka. Forum tertinggi atau agenda besar NU seperti Muktamar juga dilakukan dengan mandiri.

Kondusivitas organisasi i tingkat pusat telah mulai menemui titik temu berkat ishlah antar pengurus. Karena itu di daerah seperti NTB, PWNU perlu untuk mendorong pesantren agar memiliki mesin ekonomi yang kuat, sehingga tidak bertumpu pada bantuan atau sumbangan alumni. Misalnya memiliki badan usaha pesantren. 

Jika sudah memiliki, maka pengelola memikirkan pelayanan inisiatif usaha ekonomi bagi warga di sekitar pesantren. Banyak pesantren mengelola usaha ekonomi kecil dan menengah, yang pada gilirannya menciptakan kemandirian ekonomi organisasi NU.

Kemandirian ekonomi ini pula yang mendukung NU sebagai kekuatan NU dalam moderasi beragama di Indonesia.
Misalnya sebut saja menjamurkan bisnis online semisal ojek online, antar jemput online, dan sebagainya. Semuanya, dalam bahasa saya, sesungguhnya sedang menciptakan komunitas. Dari komunitas itu pelanpelan dibangun trust (kepercayaan/ as-shidqu). Dan dari trust itulah bisnis dan roda perekonomian dijalankan.

Di NU, kita sesungguhnya sudah memiliki basis komunitas tanpa perlu membangun dan menciptakan sebagaimana yang dilakukan aneka bisnis berbasis online lainnya. Modal besar berupa sudah tersedianya komunitas tersebut harus dimanfaatkan untuk bisnis komunitas. Salah satu implementasinya adalah dalam wujud Kartanu yang menyediakan beragam fitur kemudahan beramal maupun berbisnis bagi warga NU.

Kartanu ke depan memiliki empat fungsi utama. Pertama, sebagai tabungan masa depan. Kedua, sebagai alat pembayaran (e-payment ). Ketiga, sebagai alat pembayaran asuransi. Keempat, Kartanu memiliki benefit seperti tersedianya beragam discount dan poin belanja di gerai-gerai yang telah bekerja sama.

 

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PWNU NTB dan Komisioner KI NTB 





COPYRIGHT © ANTARA 2026