Dompu (ANTARA) - Akibat cuca ekstrim dan tingginya curah hujan disertai angin kencang, membuat nalayan di Kabupaten Dompu, Nusa Tengara Barat, menambatkan kapalnya, karena takut melaut.

     Keputusan tidak melauti itu diambil, selain menghindari terjadinya bencana, nelayan menilai jika dipaksakan melaut, maka tidak akan menutupi biaya operasional, kata salah seorang nelayan di Desa Persiapan Jala, Kecamatan Huu, Dompu, Sulaiman, Kamis.

     "Sekali melaut, kami mengeluarkan uang Rp500 ribu, itu untuk keperluan BBM dan lain-lain. Jika kami paksakan melaut, hasilnya juga tidak maksimal," katanya.

     Untuk mengisi waktu luang, nelayan setempat lebih banyak memperbaiki peralatan melautnya, seperti pembenahan jaring, kapal dan peralatan lainnya. Nelayan berharap gelombang tinggi yang mencapai 3 meter di perairan laut selatan Kabupaten Dompu, segera berakhir.

     Jika cuaca ekstrim itu terus berlarut, ditakutkan nelayan setempat akan kehilangan mata pencaharuan, karena di daerah itu, para nelayan hanya mengais rezeki dari hasil laut.

     "Sawah dan ladang di sini tidak bisa dimanfaatkan, ya paling jika kondisinya mepet, kami hanya mencari ikan di dekat-dekat bibir pantai," ungkap Sulaiman.

     Berbeda dengan nelayan di Desa Soro, Kecamatan Kempo Dompu. Nelayan di daerah ini, selain mencari ikan di laut untuk sumber kehidupannya, juga mengandalkan ladang di sekitar tempat tinggalnya.

     "Kalau musim seperti ini (cuaca ekstrim), kami beraalih ke ladang. Jika tidak, kami sekeluarga bisa mati kelaparan," ungkap Salehudin nelayan setempat.

     Jarangnya nelayan yang melaut, membuat harga ikan di pasaran meningkat.

     Sumiati pedagang ikan di pasar bawah Dompu mengakui, ikan yang biasanya dijual seharga Rp5.000 per ekor, bisa dijualnya Rp12.000 per ekor.

     "Kita ambilnya dari nelayan di luar daerah, seperti di Bima, Sumbawa dan bahkan dari pulau Lombok," ungkapnya.

     Meski demikian, Sumiati dan pedagang ikan lainnya mengaku tidak mendapat banyak untung, karena untuk membeli ikan dari pengepul ikan, dengan harga tinggi.

     "Kita hanya ambil untung Rp1.000-Rp1.500 per ekor. Itu untuk ukuran besar, sementara yang kecil kami hanya mengambil untung cuma Rp500," katanya.(*)