Buleleng, Bali (ANTARA) - Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Bali Komang Agus Dharmayoga Kantina menilai kerukunan antarumat beragama merupakan modal sosial utama dalam mendukung pembangunan Kabupaten Buleleng.
"Pembangunan tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kondisi sosial yang aman dan harmonis," kata Dharmayoga di Singaraja, Bali, Minggu.
Ia mengatakan, secara sosiologis kerukunan tidak sekadar dimaknai sebagai tidak adanya konflik, melainkan kemampuan masyarakat yang berbeda agama, suku dan latar belakang untuk hidup berdampingan, saling menghormati dan bekerja sama dalam kepentingan bersama.
"Berbeda-beda agama tetapi tetap dalam satu persaudaraan. Dalam konteks masyarakat Buleleng, nilai menyama braya menjadi modal kultural yang penting karena membangun kesadaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber jarak sosial," kata Komang Agus.
Menurut dia, kehidupan masyarakat Buleleng memperlihatkan adanya interaksi lintas agama dalam berbagai ruang sosial, seperti lingkungan tempat tinggal, kegiatan ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan aktivitas sosial kemasyarakatan.
Dalam kajian sosiologi, kata dia, kondisi tersebut dapat dilihat sebagai bentuk integrasi sosial, ketika kelompok-kelompok berbeda mampu mempertahankan identitas masing-masing, namun tetap memiliki norma dan kepentingan bersama sebagai perekat kehidupan sosial.
Ia menjelaskan kerukunan juga berkaitan erat dengan konsep modal sosial yang meliputi kepercayaan, norma bersama dan jaringan sosial. Semakin kuat kepercayaan antarkelompok, semakin mudah masyarakat membangun kerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.
"Kalau masyarakat memiliki kepercayaan satu sama lain, biaya sosial untuk membangun kerja sama menjadi lebih rendah. Sebaliknya, prasangka dan konflik justru menguras energi masyarakat yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan," ujarnya.
Ia menilai keberadaan pemerintah, tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi kemasyarakatan, desa adat dan kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi serta ruang dialog antarkelompok di Buleleng.
Baca juga: Ketua STAHN Mpu Kuturan Bali menghadiri dialog lintas agama di Serbia
Komang Agus juga mengingatkan tantangan kerukunan kini tidak hanya muncul dalam kehidupan sosial secara langsung, tetapi juga di ruang digital. Penyebaran informasi yang mengandung ujaran kebencian, stereotip dan sentimen identitas dapat memicu prasangka apabila masyarakat tidak memiliki literasi digital yang baik.
Karena itu, ia mendorong penguatan pendidikan toleransi dan literasi digital, terutama bagi generasi muda, serta memperbanyak kegiatan lintas agama yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dan bekerja sama secara langsung.
Baca juga: STAHN Mpu Kuturan Bali miliki panggung kreativitas mahasiswa
"Kerukunan harus terus dirawat melalui komunikasi, saling menghormati dan kerja sama. Perbedaan agama jangan menjadi sekat, tetapi menjadi kekayaan sosial. Jika masyarakat rukun, pembangunan Buleleng akan memiliki fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan," kata Komang Agus.
Pewarta : Rolandus Nampu/IMBA Purnomo
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026