Mataram (ANTARA) - Tim Puma Kepolisian Resor Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, merazia aksi premanisme di kawasan Pasar Tradisional Mandalika untuk menciptakan rasa aman di kawasan itu.

Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa di Mataram, Jumat, mengatakan, aksi premanisme yang terjadi di salah satu kawasan pasar induk tersebut berkaitan dengan pungutan liar kepada para pengemudi truk angkut barang.

"Dari razia di lapangan, kami menangkap seorang pria yang diduga melakukan penarikan retribusi parkir kepada para sopir truk," kata Kadek Adi.

Pria yang ditangkap tersebut berinisial S. Aparat menangkapnya dengan barang bukti satu bundel karcis retribusi parkir berisi 100 lembar. Untuk satu kendaraan truk angkut barang, S menarik pungutan Rp10 ribu.

"Setelah kita periksa (karcis). Karcis itu tidak dikeluarkan oleh instansi pemerintah melainkan dari salah satu organisasi di kawasan pasar," ujarnya.

Dari pengakuan S, katanya, tim aparat mendapat informasi bahwa karcis tersebut dibeli dari salah seorang anggota organisasi masyarakat, yakni Forum Bertais Rembuk (FBR).

"Satu bundel berisi 100 lembar karcis itu dibelinya Rp100 ribu," ucap dia.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Puma Polresta Mataram langsung melakukan pengembangan. Hasilnya, polisi menemukan tempat yang diduga sebagai kantor FBR. Lokasinya masih berada dalam kawasan Pasar Tradisional Mandalika.

"Kantornya kita segel dan dipasangi garis polisi agar tidak ada lagi yang masuk ke sekretariat itu," katanya.

Penyegelan ini sebagai bagian dari tindak lanjut kepolisian dalam memberantas aksi premanisme yang kini menjadi atensi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, katanya.

Maraknya keluhan para pedagang yang mengaku mendapat perlakuan sama seperti sopir truk angkut barang, katanya, menjadi dasar Tim Puma Polresta Mataram melakukan penyelidikan. Mereka merasa resah dengan adanya penarikan uang yang mengatasnamakan keamanan.

"Jadi untuk peran organisasi ini masuk dalam penyelidikan kami. Begitu pula dengan S yang kita tangkap," ucapnya.

Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024