Mataram (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Nusa Tenggara Barat, l menyelenggarakan kajian umum bersama Prof. H. Muhammad Din Syamsuddin, yang menjadi rangkaian kegiatan menyambut Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah Ke-48.

Kegiatan yang mengangkat tema "Muhammadiyah dan Moderasi Beragama dalam Perspektif Gerakan Islam Berkemajuan" ini dilaksanakan di Auditorium H. Anwar Ikraman Ummat, Jumat.

Kajian umum ini dihadiri oleh Rektor Ummat, Dr. Arsyad Abd. Gani, ketua BPH Ummat, para wakil rektor, dekan, kepala lembaga, biro, UPT dan civitas akademika.

Rektor Ummat Arsyad Abd. Gani, dalam sambutan kali pertama mengucap rasa syukur bahwa Prof. H. M. Din Syamsuddin, bisa hadir dan mengisi kajian umum di Universitas Muhammadiyah Mataram.

"Kita merasa bersyukur bisa bertemu dengan Ayahanda Prof. H. M. Din Syamsuddin, karena kita ketahui beliau ini adalah orang yang sangat sibuk. Tetapi, Alhamdulillah masih bisa menyempatkan hadir di Mataram, dari Roma langsung datang ke Mataram," kata Arsyad.

Arsyad pun berharap kajian yang disampaikan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut bisa menjadi arahan, dan bimbingan seluruh peserta yang hadir.

"Semoga kajian yang disampaikan Ayahanda Prof. H. M. Din Syamsuddin bisa menjadi bekal kita semua dalam membangun amal usaha Muhammadiyah dan tanggung jawab sebagai kader dalam rangka membangun perserikatan Muhammadiyah," ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. H. M. Din Syamsuddin, dalam kajian umum di Universitas Muhammadiyah Mataram menyampaikan bahwa kata moderat sebenarnya positif yaitu berada di tengah, tidak terjebak ekstremitas atau ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

"Lebih tepatnya moderat itu berada di tengah-tengah," kata Syamsuddin.

Syamsuddin juga menyampaikan bahwa sebagai umat beragama ada perbedaan yang prinsipiel, terutama pada tatanan teologis.

"Yaitu bagaimana meng-konseptualisasi-kan tuhan yang berbeda dan tidak bisa disamakan antara Islam, Kristen, Yahudi dan agama-agama lainnya," ujar dia.

Menurut dia, ada pesan penting dalam memahami moderasi beragama, yaitu meniadakan ekstremitas di dalam beragama.

"Ekstrem artinya melampaui batas. Sedangkan, fanatik itu berpegang teguh kepada keyakinan keagamaan dan hal ini harus dimiliki oleh umat Islam. Namun, ekspresinya jangan melampaui batas atau ekstrem," ucapnya.

Syamsuddin yang juga pernah mengemban tugaa sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ke-6 ini mengatakan bahwa Islam datang dengan bahasanya sendiri yaitu Wasathiyah yang artinya jalan tengah.

"Islam memiliki satu konsep yang disebut Wasathiyah. Inilah istilah penting yang kita kembangkan sekarang, dimana umat Islam menjadi Mmatan Wasathiyah yang lebih dari sekadar umat yang moderat, dan wasathiyah akan mewujudkan Indonesia yang bermarwah," kata Syamsuddin. (*)

Pewarta : Antara NTB
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024