Jakarta (ANTARA) - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Spesies, dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indra Exploitasia mengatakan bahwa keberadaan kawasan konservasi tidak hanya penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu, Indra mengatakan bahwa upaya mencapai visi hidup harmoni dengan alam pada 2050 tidak hanya difokuskan untuk melindungi keberagaman ekosistem, spesies, dan genetik, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan alam secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.

"Yang menjadi challenge (tantangan) kita adalah menjadikan bagian bagaimana konservasi ini tidak cost center (pusat biaya) tapi juga menjadi profit center (pusat keuntungan). Bagaimana masyarakat mampu bisa meng-generate konservasi sehingga menghasilkan keuntungan," katanya.

"Ini yang sekarang kita sedang lakukan, upaya bagaimana konservasi itu tidak hanya sekedar menghabiskan uang dan memerlukan banyak pendanaan. Karena banyak sekali program yang bisa kita generate untuk menghasilkan keuntungan," ia menambahkan.

Selain itu, dia menyampaikan perlunya memastikan pembagian keuntungan bagi masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya genetik. Dalam hal ini, dia mencontohkan pemanfaatan kayu bajakah yang ditemukan di pedalaman Kalimantan dalam pengobatan tradisional Suku Dayak.

Baca juga: Elang, alap-alap, dan kukang dilepas ke alam untuk memperingati HCPSN
Baca juga: Warga Ngargoretno menggelar Ruwat Rawat Menoreh upaya konservasi alam

Menurut dia, kayu bajakah berpotensi besar dimanfaatkan untuk produk kesehatan, tetapi masyarakat belum bisa mendapat manfaat besar dari komoditas tersebut. "Harusnya ini dipatenkan dan kemudian bagaimana setiap penggunaan dari bajakah tersebut yang diproses secara tradisional, masyarakat mendapat mendapatkan keuntungan dari pengetahuan tradisional tersebut," katanya.




 

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024