Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Barat mengajak masyarakat setempat untuk mulai menanam cabai di halaman atau pekarangan rumah guna mengatasi kelangkaan dan menekan inflasi yang disebabkan tingginya harga cabai.

"Manfaatkan lahan dan pekarangan rumah untuk menanam cabai guna mengatasi kelangkaan serta menekan inflasi yang disebabkan salah satunya tingginya harga cabai," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Fathul Gani di Mataram, Jumat.

Ia mengakui saat ini harga cabai di NTB khususnya di tingkat petani cenderung fluktuatif setelah sempat melonjak cukup tinggi dalam dua minggu terakhir  Januari 2023.

"Harga cabai rawit minggu ini di kisaran Rp40 ribu sampai dengan Rp50 ribu di tingkat petani. Minggu sebelumnya Rp60 ribu sampai dengan Rp70 ribu. Jadi masih sangat fluktuatif belum stabil," ujarnya.

Fathul menjelaskan jika merujuk data  2022, luas areal tanam cabai rawit mencapai 272,19 hektare, dengan total produksi mencapai 149,502 kuintal lebih. Sedangkan cabai besar luas areal tanam mencapai 150,3 hektar, total produksinya mencapai 71,686 kuintal lebih.

"Pada tahun 2023, untuk cabai rawit kami menargetkan produksinya 430,022 kuintal lebih dan cabai besar 209,142 kuintal lebih," kata mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB ini.

Kendati demikian menurutnya, kenaikan harga cabai di pasaran murni karena kebutuhan lokal dan kebutuhan antarwilayah yang saling memenuhi permintaan yang begitu tinggi.

Fathul berharap menanam cabai dapat menjadi gerakan bersama, sehingga bisa menekan inflasi dan juga menciptakan kemandirian warga.

"Kalau semua menanam cabai, inflasi dapat kita jaga. Selain itu masyarakat juga menjadi lebih hemat karena bisa menghasilkan sendiri bahan-bahan pokok yang dibutuhkan," katanya.

Pewarta : Nur Imansyah
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024