Jakarta (ANTARA) - Kimia Farma Laboratorium & Klinik, sebagai bagian dari Kimia Farma Group, siap membantu dan mendukung penanganan stunting melalui kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

"Kami secara resmi bekerja sama dengan BKKBN melalui Program Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL) yang merupakan aplikasi BKKBN, di mana aplikasi tersebut harus diisi oleh calon pengantin dan calon pengantin harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, sehingga hasilnya bisa kita unggah ke sistem," ujar Direktur Utama Kimia Farma Laboratorium & Klinik Ardhy Nugrahanto Wokas di Jakarta, Selasa.

Maka dari itu, lanjutnya, Kimia Farma Laboratorium & Klinik melakukan bridging sistem, sehingga apa yang nanti dihasilkan bisa langsung terunggah ke sistem dan juga tersertifikasi karena dilakukan Kimia Farma Laboratorium & Klinik.

"Sistem kita akan terkoneksi langsung dengan sistem BKKBN sehingga diharapkan prosesnya bisa lebih ramping dan datanya bisa terhubung secara otomatis dengan sistem mereka yang sudah ada," katanya.

Selain itu untuk menekan stunting, Kimia Farma Laboratorium & Klinik juga menggelar kelas pranikah khusus calon pengantin, di mana nantinya akan ada banyak kelas edukasi. "Kami yakin dan percaya dengan melakukan kontrol terhadap calon pengantin, maka upaya untuk mengontrol stunting sampai 14 persen bisa tercapai," kata Ardhy Nugrahanto Wokas.

Dalam rangka mendukung program pemerintah untuk Percepatan Penurunan Stunting dari hulu, Kimia Farma Laboratorium & Klinik juga melaksanakan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan (BKKBN).

Baca juga: Integrated efforts can help reduce stunting, extreme poverty
Baca juga: Kebersihan kelola daging unggas kunci cegah stunting

Kerja sama ini nantinya akan mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan. Sebelumnya, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta agar Program Percepatan Penurunan Angka Prevalensi Stunting menjadi sebuah gerakan nasional dalam masyarakat saat ini.

Muhadjir menuturkan bahwa partisipasi dari semua pihak merupakan hal penting, supaya program percepatan penurunan stunting bisa tumbuh mendarah daging dalam pikiran dan hati masyarakat.

Kewaspadaan terhadap stunting, katanya, juga harus ditingkatkan karena terdapat data dari Bank Dunia di tahun 2019, yang menyatakan sebesar 54 persen angkatan kerja produktif di Indonesia merupakan mantan anak yang terkena stunting.


 

 

Pewarta : Aji Cakti
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024