Mataram,  (Antara) - Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Nusa Tenggara Barat sudah melatih sebanyak 28.445 guru untuk materi Kurikulum 2013 agar mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian.

"Guru yang sudah kami latih berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda, mulai dari SD hingga SMA/SMK," kata Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Nusa Tenggara Barat (NTB) Muh Irfan, di Mataram, Sabtu.

Dia menyebutkan seluruh guru yang sudah diberikan peningkatan kapasitas tentang kurikulum 2013 itu tersebar di 10 kabupaten/kota di NTB, yakni Kabupaten Lombok Barat 3.283 orang, Lombok Tengah 4.396 orang, Lombok Utara, 1.077 orang, Lombok Timur 5.937 orang, dan Kota Mataram 2.216 orang.

Selain itu, di Kabupaten Sumbawa 3.291 orang, Sumbawa Barat 1.024 orang, Dompu 2.229 orang, Bima 3.755 orang dan Kota Bima 1.238 orang.

"Dari total guru yang sudah dilatih tentang kurikulum 2013, paling banyak dari jenjang SD, yakni 17.245 orang," sebut Irfan.

Menurut dia, pelatihan Kurikulum 2013 berakhir pada 2015, karena sudah disepakati bahwa seluruh satuan pendidikan sudah harus mengaplikasikan kurikulum tersebut pada 2015, baik oleh guru mata pelajaran dan guru kelas yang sudah dilatih.

Dalam menerapkan Kurikulum 2013, kata Irfan, para guru dibekali dengan bahan ajar yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, bahan ajar tersebut hingga saat ini memang masih dalam tahap pemenuhan, sehingga ada guru yang belum memperolehnya.

"Kami memaklumi memang distribusi buku ajar belum sampai seluruhnya, tapi bukan berarti guru tidak mengimplementasikan Kurikulum 2013. Bahan ajar itu bisa diakses lewat internet atau foto kopi, sambil menunggu buku diterima," ucapnya.

Kaitannya dengan perubahan presiden dan kementerian, menurut Irfan, tidak akan begitu banyak berpengaruh karena roh dari implementasi Kurikulum 2013 tidak beda jauh dengan revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Kurikulum 2013, lanjutnya, bagian dari revolusi mental, di mana yang diinginkan adalah bagaimana anak didik punya sikap, prilaku, budi pekerti, terampil dan berilmu.

"Kalau substansinya hampir sama antara Kurikulum 2013 dengan revolusi mental, itu bagian yang tidak terpisahkan. Entah mau diubah namanya, yang jelas rohnya sudah di situ," katanya.

Irfan mengatakan, setelah proses pelatihan guru selesai, akan dilanjutkan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap hasil pelatihan yang diberikan. Kegiatan itu akan dilakukan pada 2015.

"Kami ingin melihat apa guru-guru yang sudah dilatih itu mampu menerapkan Kurikulum 2013, jika ada kekurangan, apa masalahnya, sehingga bisa dicarikan solusinya," ujar Irfan.


Pewarta : Awaludin
Editor :
Copyright © ANTARA 2024