Jakarta (ANTARA) - Senior Economis DBS Bank Radhika Rao memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 akan sekitar 5 persen secara tahunan. “Dengan mempertimbangkan banyak faktor secara bersamaan, dengan normalisasi permintaan dan investasi tetap masuk, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5 persen,” kata Radhika dalam media briefing daring yang dipantau di Jakarta, Selasa.
 

Ia menyebut konsumsi masyarakat akan kembali normal dan tumbuh moderat pada tahun ini, terutama di paruh kedua 2023. Investasi juga akan tetap masuk ke sektor-sektor pertambangan, pengolahan logam, dan transportasi, sementara harga komoditas Sumber Daya Alam (SDA) yang sedang menurun diperkirakan akan memperlemah perdagangan.

Namun pada saat yang sama, inflasi di Indonesia menjadi lebih terkendali dibandingkan inflasi negara lain di wilayah yang sama, terutama Filipina. “Kita telah melihat inflasi mulai termoderasi dan itu telah mengizinkan Bank Indonesia, yang telah cukup agresif dalam siklus peningkatan suku bunga acuannya, menahan suku bunga acuan sejak Februari,” katanya.

Baca juga: BPS NTB uji publik hasil pendataan Regsosek di Lombok Tengah
Baca juga: Parade budaya dan pentas seni dongkrak sektor UMKM

Ia memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Day Reverse Repo Rate akan bertahan sebesar 5,50 persen di Mei, dan mulai diturunkan pada Agustus atau September 2023. Pasalnya, inflasi diperkirakan akan kembali ke kisaran target pemerintah atau di bawah 3 persen secara tahunan pada semester II-2023.

Pada saat yang sama, pergerakan nilai tukar rupiah juga diprediksi stabil. “Untuk neraca transaksi berjalan, surplus perdagangan tahun lalu yang cukup besar juga cukup membantu menopang neraca transaksi berjalan yang kami perkirakan masih akan mencatatkan sedikit surplus tahun ini, yang akan menandai tahun ketiga surplus transaksi berjalan Indonesia,” katanya.


 


 


Pewarta : Sanya Dinda Susanti
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024