Jakarta (ANTARA) - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang dan mengembangkan vaksin oral menggunakan kombinasi antigen permukaan hepatitis B dan antigen inti hepatitis B yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas vaksin hepatitis di negara berkembang.

"Pengembangan vaksin ini menggunakan kitosan sebagai agen pembawa untuk mengantarkan protein ke target yang dituju. Selain itu, alginat juga ditambahkan untuk mengontrol pelepasan antigen di usus," kata peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetik BRIN Nurlaili Ekawati di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan tingkat kasus sirosis yang signifikan telah menjadi perhatian global. Sirosis adalah penyakit serius yang sering disebabkan oleh infeksi hepatitis B kronis dan dapat menyebabkan kanker hati. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengobatan hepatitis dan vaksin intramuscular (injeksi ke dalam otot tubuh) yang mengandung hepatitis B surface antigen memiliki keterbatasan dalam efektivitasnya terhadap pasien yang menderita hepatitis kronis.

"Vaksin intramuscular umumnya kurang efektif di negara-negara berkembang dengan jumlah penduduk yang besar, seperti Indonesia, karena biayanya yang tinggi dan ketergantungan pada layanan medis yang tersedia," kata Nurlaili.

Sebelum menguji formula vaksin secara in vivo (untuk mengamati efek kandidat obat), melakukan karakterisasi mikropartikel yang meliputi penentuan loading efikasi, ukuran partikel, distribusi, zeta potensial, serta bentuk morfologinya.

Selain itu, menggunakan juga Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk menganalisis gugus fungsi dalam formula vaksin. "Berdasarkan parameter loading efikasi, PdI, zeta potensial, ukuran partikel, FTIR, dan respon imun atau pembentukan antibodi (anti-HBc), disimpulkan bahwa kombinasi dari HBcAg dan HbsAg dapat dilakukan enkapsulasi (proses penangkapan partikel padat, butiran cairan dan gas dalam lapisan tipis) dalam mikropartikel kitosan alginat dengan efektivitas yang baik," katanya.

Baca juga: BRIN buka kesempatan industri manfaatkan fasilitas riset KST
Baca juga: Bapanas gandeng BRIN perkuat teknologi informasi

Pada hari ke 35 setelah vaksinasi pertama, terbentuklah antibodi (HbcAb) yang penting untuk respons imun adaptif terhadap infeksi hepatitis B. Aktivitas enzim Alanine Transaminase (ALT) dan Aspartate Transaminase (AST) yang menunjukkan fungsi hati, tetap dalam rentang normal setelah pemberian vaksin tersebut. Hal itu mengindikasikan vaksin oral aman dan tidak menyebabkan kerusakan hati.

"Hasil pengamatan terhadap jaringan hati hewan uji yang diberi antigen HBsAg dan HBcAg yang telah dilakukan enkapsulasi oleh kitosan alginat yang diberikan secara per oral dapat membantu respon imun adaptif tanpa menyebabkan kerusakan hati, sehingga memperkuat kesimpulan bahwa formulasi ini aman," demikian Nurlaili Ekawati.


 

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024