Alumni pondok pesantren lulus SNMPTN Unram rendah
Jumat, 27 Mei 2016 20:10 WIB
Ilustrasi - Suasana pelaksanaan SBMPTN. (ANTARA Jatim) (1)
Mataram (Antara NTB) - Rektor Universitas Mataram Prof Sunarpi menyebutkan alumni pondok pesantren yang lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri 2016 di kampusnya relatif rendah, yakni sekitar satu persen dari kuota sebanyak 3.500 orang.
"Jumlah pondok pesantren di Nusa Tenggara Barat (NTB), relatif banyak, sehingga kalau dipersentase kecil jumlah yang diterima, sekitar satu persen," kata Prof Sunarpi, di Mataram, Jumat.
Ia mencontohkan, Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri, Kabupaten Lombok Barat, hanya dua alumninya yang lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dengan pilihan Universitas Mataram (Unram).
Demikian juga dengan Pondok Pesantren Qamarul Huda, Kabupaten Lombok Tengah, hanya satu alumninya yang lulus. Padahal, dua pondok pesantren di bawah Kementerian Agama itu tergolong besar.
Berbeda halnya dengan madrasah aliyah negeri (MAN), kata Sunarpi, relatif banyak yang bisa lulus seleksi SNMPTN, bahkan ada yang diterima di Fakultas Kedokteran Unram.
"Kalau MAN relatif mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri yang sudah terakreditasi," ujarnya.
Menurut dia, relatif rendahnya alumni pondok pesantren yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN disebabkan perubahan pola penerimaan SNMPTN pada 2016.
Calon mahasiswa baru jalur SNMPTN yang diterima prioritasnya adalah dari sekolah atau madrasah yang sudah terakreditasi. Komposisinya adalah akreditasi A sebesar 75 persen dari kuota, akreditas B 50 persen dan akreditasi C sebesar 35 persen.
Pada saat pengolahan data calon mahasiswa yang masuk jalur SNMPTN, panitia nasional melakukan pemeringkatan sekolah/madrasah. Pada proses ini, calon mahasiswa dari pondok pesantren yang tidak terakreditasi otomatis gugur, meskipun nilai rapornya bagus.
"Berbeda dengan pola penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN pada 2015 yang boleh diikuti semua sekolah/madrasah tanpa mempertimbangkan akreditasi sekolah dan tidak dilakukan pemeringkatan sekolah/madrasah," ucap Sunarpi.
Ia mengatakan, alumni pondok pesantren yang ingin masuk perguruan tinggi negeri masih memiliki kesempatan melalui jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) dan jalur seleksi mandiri.
SBMPTN akan digelar pada 31 Mei 2016, sedangkan penerimaan mahasiswa baru Unram melalui jalur seleksi mandiri akan dilaksanakan setelah pengumuman hasil SBMPTN.
Unram menerima sebanyak 3.500 mahasiswa baru pada 2016, melalui jalur SNMPTN sebesar 40 persen dari kuota, begitu juga melalui jalur SBMPTN 40 persen, sedangkan jalur seleksi mandiri 20 persen. (*)
"Jumlah pondok pesantren di Nusa Tenggara Barat (NTB), relatif banyak, sehingga kalau dipersentase kecil jumlah yang diterima, sekitar satu persen," kata Prof Sunarpi, di Mataram, Jumat.
Ia mencontohkan, Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri, Kabupaten Lombok Barat, hanya dua alumninya yang lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dengan pilihan Universitas Mataram (Unram).
Demikian juga dengan Pondok Pesantren Qamarul Huda, Kabupaten Lombok Tengah, hanya satu alumninya yang lulus. Padahal, dua pondok pesantren di bawah Kementerian Agama itu tergolong besar.
Berbeda halnya dengan madrasah aliyah negeri (MAN), kata Sunarpi, relatif banyak yang bisa lulus seleksi SNMPTN, bahkan ada yang diterima di Fakultas Kedokteran Unram.
"Kalau MAN relatif mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri yang sudah terakreditasi," ujarnya.
Menurut dia, relatif rendahnya alumni pondok pesantren yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN disebabkan perubahan pola penerimaan SNMPTN pada 2016.
Calon mahasiswa baru jalur SNMPTN yang diterima prioritasnya adalah dari sekolah atau madrasah yang sudah terakreditasi. Komposisinya adalah akreditasi A sebesar 75 persen dari kuota, akreditas B 50 persen dan akreditasi C sebesar 35 persen.
Pada saat pengolahan data calon mahasiswa yang masuk jalur SNMPTN, panitia nasional melakukan pemeringkatan sekolah/madrasah. Pada proses ini, calon mahasiswa dari pondok pesantren yang tidak terakreditasi otomatis gugur, meskipun nilai rapornya bagus.
"Berbeda dengan pola penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN pada 2015 yang boleh diikuti semua sekolah/madrasah tanpa mempertimbangkan akreditasi sekolah dan tidak dilakukan pemeringkatan sekolah/madrasah," ucap Sunarpi.
Ia mengatakan, alumni pondok pesantren yang ingin masuk perguruan tinggi negeri masih memiliki kesempatan melalui jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) dan jalur seleksi mandiri.
SBMPTN akan digelar pada 31 Mei 2016, sedangkan penerimaan mahasiswa baru Unram melalui jalur seleksi mandiri akan dilaksanakan setelah pengumuman hasil SBMPTN.
Unram menerima sebanyak 3.500 mahasiswa baru pada 2016, melalui jalur SNMPTN sebesar 40 persen dari kuota, begitu juga melalui jalur SBMPTN 40 persen, sedangkan jalur seleksi mandiri 20 persen. (*)
Pewarta :
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
WNA pemilik hotel di Lombok Barat dilaporkan terkait dugaan eksploitasi seksual
30 January 2026 21:02 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
PLN NTB Dorong Literasi Kesehatan Anak Lewat Kolaborasi Mahasiswa Internasional
30 November 2025 23:16 WIB
Seni bercerita penting bagi komunikasi anak dan orang tua, kata Raffi Ahmad
16 November 2025 14:51 WIB
Ketua PBNU ajak santri & warga NU jangan kecil hati soal penghinaan pesantren
14 October 2025 15:34 WIB
Guru Besar IPB: Mega potensi ekowisata dimiliki Indonesia tak masuk unggulan Kabinet Merah-Putih
21 September 2025 8:38 WIB