BRIN dorong kemitraan kolaboratif kemajuan teknologi di ASEAN
Kamis, 17 Oktober 2024 20:23 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko. ANTARA/Sean Filo Muhamad
Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan komitmen mendorong kemitraan kolaboratif bagi kemajuan ilmiah dan teknologi di wilayah ASEAN dalam rangka mengatasi tantangan global seperti netralitas karbon, ekonomi biru, perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Selain kemajuan teknologi, BRIN juga mendorong kemitraan kolaboratif dan pengembangan kapasitas di seluruh ASEAN dengan mitra internasional seperti Republik Korea (Korea Selatan), sebagai salah satu mitra penting BRIN dalam mengadaptasi setiap kegiatan penelitian dan kolaborasi bersama pada banyak bidang penelitian.
"Dengan berbagi keahlian dan praktik terbaik, kami yakin dapat membangun tenaga kerja yang tangguh dan siap memanfaatkan kecerdasan buatan untuk pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam netralitas karbon dan ekonomi biru," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko melalui keterangan di Jakarta, Kamis.
Ia mengungkapkan sejumlah platform kolaborasi telah dibangun oleh BRIN, seperti platform untuk penggalian arkeologi, ekspedisi ilmu kehidupan terrestrial, dan ekspedisi kelautan.
Menurut dia, platform produksi penelitian BRIN dapat mengumpulkan data besar, terutama data digital di banyak bidang penelitian seperti data arkeologi dan sebagainya.
"Platform ini juga dapat digunakan sebagai platform kemitraan bagi negara-negara anggota ASEAN, juga termasuk Republik Korea sebagai salah satu mitra dialog BRIN untuk ASEAN dalam mendorong inisiatif penelitian bersama," ujarnya.
Sementara Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN Budi Prawara mengatakan pihaknya juga akan mengeksplorasi tentang kecerdasan buatan atau AI yang dapat mempercepat kemajuan menuju netralitas karbon, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi biru yang berkelanjutan.
"Penting bagi kita untuk berbagi wawasan, membahas tantangan, dan mengidentifikasi peluang, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan guna mengatasi beberapa masalah lingkungan paling mendesak yang kita hadapi saat ini," ucapnya.
Baca juga: BRIN tetapkan strategi pendukung program "Quick Win"
Baca juga: Susu ikan dapat jadi solusi untuk atasi stunting
Senada dengan Budi, Duta Besar Misi Republik Korea untuk ASEAN Park Hyunjoo menekankan teknologi digital merupakan proses perubahan yang dinamis dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Ia optimistis Republik Korea tidak akan pernah berhenti berusaha untuk tumbuh bersama ASEAN melalui peluang digital. Berbagai informasi, ide, dan kebijakan yang dibagikan dapat berkontribusi pada keberhasilan konvergensi AI dan lingkungan di ASEAN.
Baca juga: BRIN explores lans slime for cosmetic development
"Kecerdasan buatan muncul sebagai pendorong utama dalam transformasi digital. Artinya, bagaimana cara kita menggunakan kecerdasan buatan akan menentukan hasil transformasi digital. Meskipun dunia sedang menghadapi krisis perubahan iklim, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih sejahtera bersama dengan menerapkan teknologi AI," tutur Park Hyunjoo.
Selain kemajuan teknologi, BRIN juga mendorong kemitraan kolaboratif dan pengembangan kapasitas di seluruh ASEAN dengan mitra internasional seperti Republik Korea (Korea Selatan), sebagai salah satu mitra penting BRIN dalam mengadaptasi setiap kegiatan penelitian dan kolaborasi bersama pada banyak bidang penelitian.
"Dengan berbagi keahlian dan praktik terbaik, kami yakin dapat membangun tenaga kerja yang tangguh dan siap memanfaatkan kecerdasan buatan untuk pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam netralitas karbon dan ekonomi biru," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko melalui keterangan di Jakarta, Kamis.
Ia mengungkapkan sejumlah platform kolaborasi telah dibangun oleh BRIN, seperti platform untuk penggalian arkeologi, ekspedisi ilmu kehidupan terrestrial, dan ekspedisi kelautan.
Menurut dia, platform produksi penelitian BRIN dapat mengumpulkan data besar, terutama data digital di banyak bidang penelitian seperti data arkeologi dan sebagainya.
"Platform ini juga dapat digunakan sebagai platform kemitraan bagi negara-negara anggota ASEAN, juga termasuk Republik Korea sebagai salah satu mitra dialog BRIN untuk ASEAN dalam mendorong inisiatif penelitian bersama," ujarnya.
Sementara Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN Budi Prawara mengatakan pihaknya juga akan mengeksplorasi tentang kecerdasan buatan atau AI yang dapat mempercepat kemajuan menuju netralitas karbon, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi biru yang berkelanjutan.
"Penting bagi kita untuk berbagi wawasan, membahas tantangan, dan mengidentifikasi peluang, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan guna mengatasi beberapa masalah lingkungan paling mendesak yang kita hadapi saat ini," ucapnya.
Baca juga: BRIN tetapkan strategi pendukung program "Quick Win"
Baca juga: Susu ikan dapat jadi solusi untuk atasi stunting
Senada dengan Budi, Duta Besar Misi Republik Korea untuk ASEAN Park Hyunjoo menekankan teknologi digital merupakan proses perubahan yang dinamis dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Ia optimistis Republik Korea tidak akan pernah berhenti berusaha untuk tumbuh bersama ASEAN melalui peluang digital. Berbagai informasi, ide, dan kebijakan yang dibagikan dapat berkontribusi pada keberhasilan konvergensi AI dan lingkungan di ASEAN.
Baca juga: BRIN explores lans slime for cosmetic development
"Kecerdasan buatan muncul sebagai pendorong utama dalam transformasi digital. Artinya, bagaimana cara kita menggunakan kecerdasan buatan akan menentukan hasil transformasi digital. Meskipun dunia sedang menghadapi krisis perubahan iklim, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih sejahtera bersama dengan menerapkan teknologi AI," tutur Park Hyunjoo.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia membuka peluang kolaborasi pendidikan tinggi dan riset dengan Slowakia
04 April 2026 5:26 WIB
Cetak akademisi unggul, S2 STKIP Tamsis Bima bangun budaya riset sejak awal
28 February 2026 20:21 WIB
ITSRC hadir di Teluk Ekas, NTB optimistis krisis bibit rumput laut teratasi
20 February 2026 16:17 WIB
STKIP Tamsis Bima perketat hibah, Riset Dosen wajib tembus sinta dan scopus
06 February 2026 14:40 WIB
Manfaatkan AI, UMMAT perkuat daya saing dosen di jurnal Internasional bereputasi
29 January 2026 19:00 WIB