Cangkang kepiting diolah jadi antihama ramah lingkungan
Jumat, 11 Januari 2019 14:43 WIB
Ilustrasi: Nelayan mengemas rajungan hasil tangkapannya di desa Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Yogyakarta (Antaranews NTB) - Segala sesuatu di dunia bisa dijadikan produk bermanfaat setelah melalui sentuhan kreatifitas ilmiah. Salah satunya yang dilakukan Dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Ronny Martien yang mengolah cangkang kepiting dan kulit udang menjadi nanokitosan, formula antihama yang ramah lingkungan.
Saat menyampaikan keterangan pers di Kampus UGM di Yogyakarta, Jumat, ia mengatakan ide mengembangkan formula nanokitosan itu berawal dari keprihatinan terhadap maraknya penggunaan pestisida untuk membasmi hama, khususnya di perkebunan sayur dan buah di daerah Ngablak, Kopeng, Jawa Tengah.
"Penggunaan pestisida dalam jumlah besar yang dilakukan petani memang mampu mengurangi serangan hama perkebunan, tetapi itu berbahaya," kata Ronny.
Keprihatinan itu kemudian memunculkan ide untuk menghasilkan nanokitosan untuk melindungi tanaman dari hama dari cangkang kepiting dan kulit udang yang pasokannya melimpah di Indonesia.
Cangkang kepiting dan kulit udang mengandung senyawa kitin yang kemudian bisa diubah menjadi kitosan dalam ukuran nano partikel berwujud cair.
Menurut Ronny, formula nanokitosan yang dia kembangkan mengandung antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur serta bersifat non-toksik.
"Bukan seperti pestisida yang membunuh hama, tetapi nanokitosan disemprotkan untuk melapisi tanaman sehingga melindungi dari serangan hama," kata dia.
Ia mengatakan nanokitosan merupakan biopolimer atau polimer alam sehingga aman bagi manusia dan ramah lingkungan.
"Formula ini juga dapat menyuburkan tanaman karena memiliki kemampuan mengikat unsur hara di alam sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman," kata Ronny.
Ia mengatakan saat ini formula tersebut telah dimanfaatkan oleh petani di berbagai wilayah Indonesia seperti di Kopeng, Tawangmangu, Kediri, dan Lombok Barat.
Formula nanokitosan dari limbah cangkang kepiting dan kulit udang yang dikembangkan Ronny juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet aman untuk buah, sayur, ikan, serta bahan pangan lainnya.
"Bisa memperpanjang umur simpan produk makanan hingga tiga bulan dan juga menjaga kualitas produk," kata Ronny. (*)
Saat menyampaikan keterangan pers di Kampus UGM di Yogyakarta, Jumat, ia mengatakan ide mengembangkan formula nanokitosan itu berawal dari keprihatinan terhadap maraknya penggunaan pestisida untuk membasmi hama, khususnya di perkebunan sayur dan buah di daerah Ngablak, Kopeng, Jawa Tengah.
"Penggunaan pestisida dalam jumlah besar yang dilakukan petani memang mampu mengurangi serangan hama perkebunan, tetapi itu berbahaya," kata Ronny.
Keprihatinan itu kemudian memunculkan ide untuk menghasilkan nanokitosan untuk melindungi tanaman dari hama dari cangkang kepiting dan kulit udang yang pasokannya melimpah di Indonesia.
Cangkang kepiting dan kulit udang mengandung senyawa kitin yang kemudian bisa diubah menjadi kitosan dalam ukuran nano partikel berwujud cair.
Menurut Ronny, formula nanokitosan yang dia kembangkan mengandung antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur serta bersifat non-toksik.
"Bukan seperti pestisida yang membunuh hama, tetapi nanokitosan disemprotkan untuk melapisi tanaman sehingga melindungi dari serangan hama," kata dia.
Ia mengatakan nanokitosan merupakan biopolimer atau polimer alam sehingga aman bagi manusia dan ramah lingkungan.
"Formula ini juga dapat menyuburkan tanaman karena memiliki kemampuan mengikat unsur hara di alam sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman," kata Ronny.
Ia mengatakan saat ini formula tersebut telah dimanfaatkan oleh petani di berbagai wilayah Indonesia seperti di Kopeng, Tawangmangu, Kediri, dan Lombok Barat.
Formula nanokitosan dari limbah cangkang kepiting dan kulit udang yang dikembangkan Ronny juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet aman untuk buah, sayur, ikan, serta bahan pangan lainnya.
"Bisa memperpanjang umur simpan produk makanan hingga tiga bulan dan juga menjaga kualitas produk," kata Ronny. (*)
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Lingkungan
Lihat Juga
FKIJK NTB dan MIM Foundation salurkan genset bagi penyintas banjir di Aceh
02 January 2026 15:01 WIB
Gunung Semeru hari ini alami 16 kali erupsi, tinggi letusan capai 1.100 meter
03 December 2025 10:28 WIB
Sembilan orang terseret banjir bandang di Agam, Sumatera Barat masih dalam pencarian
28 November 2025 13:35 WIB
BMKG prediksikan puncak musim hujan di Sulteng September hingga April 2026
16 September 2025 15:52 WIB