Mataram (ANTARA) - Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah bergerak di wilayah luka yang sering kali tak terdengar. 

Memoar karya Aurelie Moeremans ini tidak hadir sebagai kisah sensasional, melainkan catatan jujur tentang masa muda yang diremukkan oleh relasi kuasa, manipulasi, dan kekerasan yang dibungkus atas nama perhatian. 

Keberanian buku ini terletak pada penolakannya untuk meromantisasi trauma dan keengganannya memoles kenyataan demi kenyamanan pembaca.

Meski dirilis pada Oktober 2025, buku ini baru meluas dibaca pada awal 2026. Resonansinya muncul karena ia membuka pengalaman grooming sejak usia 15 tahun, ketika ketimpangan usia, kuasa, dan ketergantungan emosional membuat korban kehilangan ruang untuk berkata tidak. 

Aurelie menulis dari sudut pandang korban, tanpa mencari simpati berlebihan, tetapi juga tanpa menormalisasi kekerasan. Di situlah kekuatan narasinya: tenang, tetapi menohok.

Dalam konteks yang lebih luas, Broken Strings tidak berhenti sebagai kisah personal seorang figur publik. Ia berfungsi sebagai cermin bagi realitas sosial yang masih rapuh dalam melindungi perempuan dan anak. Apa yang dialami Aurelie bukan peristiwa terisolasi. 

Ia beresonansi dengan berbagai kasus kekerasan seksual di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat, wilayah yang berulang kali diguncang perkara serupa di ruang-ruang yang seharusnya aman.

Salah satu kontribusi penting memoar ini adalah kemampuannya memetakan pola relasi kuasa. Grooming tidak datang tiba-tiba. Ia dimulai dari perhatian, pujian, dan perlahan berubah menjadi kontrol. 

Relasi yang tampak protektif justru menggerus identitas korban, memutus jejaring sosial, dan menanamkan rasa bersalah yang membuat korban sulit keluar.

Pola ini terasa akrab ketika menengok sejumlah kasus di NTB, terutama ketika pelaku adalah figur dengan otoritas moral dan sosial. Modusnya beragam: dalih doa, pendidikan, pengasuhan, hingga janji perlindungan. 

Korban sebagian besar perempuan muda berada dalam posisi subordinat, bergantung secara psikologis dan struktural. Di titik ini, Broken Strings memberi bahasa untuk memahami kekerasan yang tidak selalu dimulai dengan paksaan fisik, tetapi tumbuh dari ketimpangan kuasa yang dibiarkan.

Data resmi menunjukkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTB masih tinggi dalam rentang 2020–2024, meski terdapat penurunan pada 2024. Namun, angka yang menurun tidak otomatis berarti kejadian berkurang. Ia bisa juga menandakan kuatnya budaya diam. 

Dalam konteks inilah Broken Strings bekerja sebagai pengganggu keheningan, mengingatkan bahwa di balik statistik ada pengalaman manusia yang nyata.

Lebih jauh, memoar ini menolak narasi menyalahkan korban. Ia memperlihatkan bagaimana korban sering dibebani rasa bersalah, sementara pelaku berlindung di balik legitimasi sosial dan institusional. 

Narasi semacam ini masih kerap muncul dalam diskursus publik, termasuk ketika kasus-kasus kekerasan mencuat dan perdebatan bergeser dari pemulihan korban ke soal menjaga nama baik.

Membaca Broken Strings seharusnya mendorong refleksi kebijakan. Komitmen negara dan daerah melalui penguatan layanan perlindungan sudah penting, tetapi belum cukup jika tidak menyentuh akar masalah, yakni relasi kuasa yang timpang, minimnya pendidikan relasi sehat, dan lemahnya pengawasan ruang-ruang tertutup. Pemulihan korban adalah proses panjang, bukan sekadar urusan hukum.

Memoar ini menutup dengan nada pemulihan, bukan dendam. Senar yang patah mungkin tidak kembali utuh, tetapi dapat disetel ulang untuk menghasilkan nada baru. Di situlah kisah personal bertemu kepentingan publik. 

Setiap luka yang diceritakan adalah alarm bahwa perlindungan belum sepenuhnya bekerja. Dan selama sunyi masih dipelihara, kekerasan akan terus menemukan ruangnya.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Banjir NTB dan sungai yang menagih jawaban
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tambang ilegal Sekotong dan ujian wibawa Negara
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB di pusaran imigran ilegal
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Misri dan ujian keadilan di Gili Trawangan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar diplomasi NTB di panggung global
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Sukardi dan taruhan masa depan Unram
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Demosi dan ujian birokrasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - MXGP Samota berujung dua tersangka, Tata kelola NTB diuji
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Mukena Lombok Barat dalam jerat tata kelola anggaran
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB menguji mesin birokrasi
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Karapan Kerbau di persimpangan zaman
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Isyarat alam di NTB 2026


Pewarta : Abdul Hakim
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026