Mataram, 18/1 (ANTARA) - Pihak Rektorat dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram, bersatu menghadapi mahasiswa yang bertindak anarkis dalam memperjuangkan aspirasi.

         Pembantu Rektor I IKIP Mataram, Ir H Muhammad Tarudi MS, di Mataram, Minggu, mengatakan, jajaran rektorat dan BEM sempat membahas langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk mengatasi tindakan anarkis seperti yang terjadi dalam aksi mahasiswa di kampus IKIP Mataram, Sabtu (17/1) lalu.

         Pembahasan langkah-langkah bijak dalam menyikapi persoalan internal IKIP Mataram antara pihak rektorat dan pengurus BEM itu digelar beberapa jam setelah tindakan anarkis itu, namun belum rampung karena tidak dihadiri Rektor IKIP Mataram, Lalu Said Ruhpina, yang sedang sakit.

         Para Pembantu Rektor IKIP Mataram akan melanjutkan rapat penyelesaian masalah itu pada Senin (19/1) dengan rektor yang akan hadir jika kondisi kesehatannya semakin mambaik.

         Demikian pula pengurus BEM IKIP Mataram yang akan menggelar rapat internal dan hasilnya akan disampaikan kepada pihak rektorat untuk ditindaklanjuti.

         "Pengurus BEM akan membahas lebih lanjut langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk meredam aksi anarkis dalam aksi lanjutan di kemudian hari sekaligus memperjuangkan aspirasi kelompok mahasiswa terkait kejelasan program studi fisika dan aspirasi lainnya itu," ujar Tarudi.

         Ia mengatakan, pengurus BEM berjanji secepatnya menyerahkan rekomendasi hasil pembahasan itu kepada pihak rektorat untuk ditindaklanjuti sekaligus berupaya mengajak seluruh mahasiswa IKIP Mataram untuk mengedepankan cara-cara intelektual dalam penyampaian aspirasi.

         Tindakan anarkis di Kampus IKIP Mataram, pada Sabtu (17/1) lalu itu juga mencoreng kredibilitas BEM sehingga merasa perlu mengambil langkah-langkah bijak agar tindakan itu tidak terulang kembali.

         "Tentu kami sangat berharap segala bentuk penyampaian aspirasi tidak harus berbuntut anarkis, pihak rektorat juga berkewajiban memperjuangkan aspirasi mahasiswa, apalagi yang berkaitan dengan kejelasan program studi," ujarnya.

         Seperti diketahui, aksi massa lanjutan lebih dari 60 orang mahasiswa IKIP Mataram, di kampusnya, Sabtu (17/1), sekitar pukul 10.00 Wita, berbuntut tindakan anarkis.

         Mahasiswa yang menggelar aksi massa itu bentrok dengan Satuan Pengamanan (Satpam) Kampus IKIP hingga seorang Satpam, Wayan Negeri dilarikan ke rumah sakit karena terkena lemparan batu.

         Gedung baru Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Mataram juga dilempari batu hingga 25 unit kaca jendela di bagian timur gedung berlantai empat itu pecah berantakan.

         Tindakan anarkis itu merupakan buntut dari serangkaian aksi massa memprotes manajemen perguruan tinggi, terkait ketidakjelasan program studi (prodi) fisika yang telah melewati masa percobaan selama dua tahun terhitung sejak 12 April lalu.

         Kelompok mahasiswa yang melakukan aksi itu menamakan diri Gerakan Mahasiswa IKIP Bersatu, namun ditengarai sebagian peserta aksi massa merupakan mahasiswa dari luar IKIP.

         Aksi itu, merupakan aksi lanjutan dari aksi serupa pada Selasa (13/1) dan Kamis (15/1) lalu.

         Selain mengkhawatirkan ditutupnya program studi fisika, para mahasiswa itu juga mempertanyakan kejelasan akreditasi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Senin (FPBS), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Fakultas Matematika dan IPA (MIPA).

         Pihak Rektorat dan BEM IKIP Mataram khawatir tindakan anarkis itu berlanjut di kemudian hari, karena tindakan anarkis dalam aksi mahasiswa di Kampus IKIP Mataram, 22 Agustus 2006 lalu, berbuntut tewasnya Muhammad Ridwan Hasan, mahasiswa semestar V, Fakultas MIPA jurusan kimia, sehingga menyatukan kekuatan dengan BEM guna menghadapi mahasiswa anarkis itu.(*)