Sejarawan: Pendidikan sejarah harus dilakukan bertahap
Kurator seni rupa Jim Supangkat (kanan) memegang tanda Penghargaan Akademi Jakarta 2018, usai diserahkan oleh Ketua Akademi Jakarta, sejarawan Taufik Abdullah (kanan) di Teater Kecil, TIM, Jakarta Pusat, Selasa (22/10/2018). Jim Supangkat, 70, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, diberi penghargaan atas kiprahnya menekuni isu-isu krusial yang menyangkut seni rupa Indonesia dan Asia dalam konstalasi perkembangan seni global. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/hp.
"Sejarah itu idealnya diajarkan secara bertahap. Pada pendidikan dasar bisa menyampaikan fakta-fakta," katanya saat ditemui ANTARA di sela-sela "Seminar Sejarah Nasional" di Jakarta, Rabu.
Pada tahap awal, kata dia, ada tiga hal dasar yang perlu dikenalkan pada siswa yaitu nama pelaku peristiwa, waktu peristiwa dan tempat peristiwa.
Kemudian, kata Ketua LIPI masa bakti 2000-2002 itu, pada tingkatan yang lebih tinggi guru bisa menerangkan secara sederhana mengapa peristiwa itu terjadi dan bagaimana situasinya saat itu.
Agar murid tidak bosan, Taufik Abdullah -- yang menulis buku Sejarah Lokal di Indonesian, (ed.), Jakarta: Tintamas, 1974 dan Islam di Indonesia, (ed.). Yogyakarta: Gadjah Mada Univ. Press, 1979 itu -- mengatakan bahwa guru juga perlu menyampaikan materi pelajaran yang bervariasi.
Sementara itu sejarawan lainnya, Dr Anhar Gonggong mengatakan pelajaran sejarah jadi membosankan karena pelajaran tersebut selalu diulang-ulang di setiap tingkat pendidikan.
Untuk itu, menurut Direktur Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1996-1999) dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2001-2003) itu -- diperlukan cara penyampaian yang menarik agar pelajaran tersebut menjadi menyenangkan.
"Guru perlu menyelipkan candaan di sela-sela mengajar. Tak hanya itu, guru juga perlu mengembangkan pengetahuannya agar penyampaian sejarah dapat berkembang," demikian Anhar Gonggong.
Pewarta : Aubrey Kandelila Fanani
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
China cetak sejarah, rebut perunggu perdana speed skating di Milan-Cortina 2026
19 February 2026 17:06 WIB
Menbud Fadli Zon men jajaki kerja sama untuk penguatan aspek sejarah dengan UNAS
07 February 2026 13:43 WIB
Prabowo sentil kepala daerah: Jangan bongkar situs sejarah perjuangan bangsa
02 February 2026 18:50 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
PLN NTB Dorong Literasi Kesehatan Anak Lewat Kolaborasi Mahasiswa Internasional
30 November 2025 23:16 WIB
Seni bercerita penting bagi komunikasi anak dan orang tua, kata Raffi Ahmad
16 November 2025 14:51 WIB
Ketua PBNU ajak santri & warga NU jangan kecil hati soal penghinaan pesantren
14 October 2025 15:34 WIB