"Data ini kami peroleh setelah berkoordinasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB)," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB, Husnanidiaty Nurdin, di Mataram, Senin.
Ia menyebutkan harga beras pada Juni lalu rata-rata masih di kisaran Rp5.825 per kilogram (kg). Namun, pada Juli 2010, naik menjadi Rp5.954/kg. Kenaikan ini dinilai masih dalam batas kewajaran.
Meskipun terjadi kenaikan, bukan berarti wilayah NTB mengalami kelangkaan beras. Hal itu sudah ditelusuri di sejumlah sentra produksi dan gudang milik para pengusaha beras serta beberapa lumbung pangan yang sudah dibangun di wilayah pedesaan.
Dari hasil pemantauan, kondisi cadangan beras di gudang-gudang milik pengusaha beras masih relatif aman. Demikian juga dengan persediaan gabah yang ada di lumbung-lumbung pangan.
"Kami sudah memantau mulai dari gudang pengusaha beras hingga lumbung-lumbung pangan yang ada di wilayah pedesaan. Di sana kita melihat cadangan beras dan gabah masih tersedia. Makanya, kami heran kok informasi harga beras sudah demikian tingginya," katanya.
Husnanidiaty menduga kenaikan harga beras sebagai dampak dari kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan permainan para spekulan yang menjual beras ke luar daerah.
Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi NTB, sudah mengeluarkan surat edaran yang intinya mengimbau para bupati dan wali kota untuk membatasi beras yang ke luar daerah.
Selain itu, memperkuat cadangan pangan di tingkat pedesaan. Penguatan bisa dilakukan dengan melakukan pembelian gabah untuk disimpan di lumbung-lumbung pangan dengan menggunakan dana alokasi khusus (DAK).
"Dana DAK bisa diarahkan untuk penguatan lumbung pangan guna mengantisipasi kondisi seperti sekarang ini. Aturan sudah membolehkan DAK diarahkan ke situ," kata Husnanidiaty.
Ia menyebutkan data cadangan beras yang diperoleh dari Bulog Divisi Regional NTB, jumlah cadangan gabah sebanyak sebanyak 64.200 ton dan beras sebanyak 24.400 ton. Cadangan pangan ini bisa untuk delapan bulan ke depan.
Pihaknya juga tidak begitu mengkhawatirkan kondisi kenaikan beras akan memengaruhi ketersediaan pangan masyarakat di wilayah-wilayah yang tanahnya kekurangan cadangan air, seperti di Lombok Tengah bagian Selatan dan di Lombok Utara.
Dari hasil pemantauan di wilayah itu rata-rata para petani sudah mengantisipasi musim paceklik dengan mencadangkan gabah hasil produksi sebelumnya untuk kebutuhan hingga musim panen padi tahun depan.
"Di Lombok Tengah bagian Selatan meskipun identik dengan tanah liat dan kekurangan air. Masyarakatnya ternyata sudah pandai untuk menyimpan cadangan pangan. Begitu pula di Lombok Utara, tradisi mengisi 'kesambik' (lumbung pangan) masih lestari," kata Husnanidiaty.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026