"Bulog bisa manfaatkan beras hasil panen Januari hingga Maret. Silahkan koordinasi dengan gapoktan (gabungan kelompok usaha tani) atau pengusaha mitra bulog untuk mencari lokasi itu," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Nusa Tenggara Barat (NTB) H M Nur Asikin Amin, saat memimpin rapat persiapan pelaksanaan pengadaan pangan 2012, di Mataram, Kamis.
Rapat itu dihadiri sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait di jajaran Pemprov NTB, dan pengusaha mitra bulog, selain pejabat terkait dari Bulog Divisi Regional (Divre) NTB.
Asikin menyarankan bulog mengioptimalkan pembelian beras petani setelah kepala Bidang Pelayanan Publik (PP) Bulog Divre NTB Bambang Utoyo, dalam rapat itu mengungkapkan bahwa stok beras di gudang Bulog NTB telah habis.
Kehabisan stok beras di gudang itu terjadi setelah menyalurkan beras untuk keluarga miskin jatah Januari dan Februari 2012 sekaligus pada Januari.
Stok beras cadangan pemerintah di gudang Bulog NTB pada posisi akhir Desember 2011 mencapai 20 ribu ton, dan kini telah dipergunakan untuk jatah beras untuk keluarga miskin (raskin) jatah Januari dan Februari 2012, yang disalurkan sekaligus sesuai instruksi Kementerian Koordinator (Kemenko) Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
Jatah raskin untuk NTB mencapai 8.500 ton sebulan, sehingga terdistribusi sebanyak 17 ribu ton untuk jatah dua bulan. Sisa stok beras setelah itu hanya tinggal 3.000 ton, yang kemudian digunakan untuk operasi pasar untuk menekan lonjakan harga.
Asikin mengatakan, sesuai laporan hasil pembelian beras petani oleh Bulog NTB tersimpulkan bahwa belum banyak beras petani yang diserap sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang berlaku.
HPP itu merupakan harga yang berlaku saat beras petani dimasukkan ke gudang bulog oleh para pedagang pengumpul atau mitra kerja bulog yang juga membeli dari petani produsen dengan harga sedikit lebih rendah dari HPP.
Pembelian beras petani oleh bulog itu mengacu kepada HPP sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan, tertanggal 29 Desember 2009 yang mulai berlaku 1 Januari 2010 hingga kini.
Untuk pembelian Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp2.640/kilogram, GKP di penggilingan sebesar Rp2.685/kilogram, Gabah Kering Giling (GKG) di penggilingan sebesar Rp3.300/kilogram, GKG di gudang bulog sebesar Rp3.345/kilogram, dan harga beras di gudang bulog sebesar Rp5.060/kilogram.
"Minimnya penyerapan beras petani oleh bulog itu karena petani lebih memilih menjual kepada kalangan pengusaha dengan harga jual yang jauh lebih tinggi. Petani mengejar pendapatan yang memadai untuk kesejahteraannya, sehingga juga tidak bisa disalahkan, " ujar Asikin. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026