"Upaya menciptakan industri rumahan yang mengolah mete gelondongan sudah kami lakukan sejak tiga tahun lalu. Sekarang jumlahnya sekitar 60 industri yang tergolong usaha kecil," kata Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bima Heru Priyanto, ketika dihubungi dari Mataram, Minggu.
Ia mengatakan, seluruh industri pengolah mete gelondongan itu tersebar di dua kecamatan penghasil mete di Kabupaten Bima, yakni di Kecamatan Donggo dan Sanggar.
Secara umum, potensi lahan tanam jambu mete di Kabupaten Bima, mencapai 30 ribu hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan, namun yang baru termanfaatkan sekitar 8.000 hektare.
Sementara potensi areal perkebunan di Kabupaten Bima, yang bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis komoditas perkebunan sekitar 100 ribu hektare.
Heru mengatakan, tanaman jambu mete yang dikembangkan petani rata-rata berusia 10 tahun dan masih tergolong produktif, bahkan masih mampu berproduksi hingga usia 30 tahun.
Hasil panen petani berupa mete gelondongan dijual ke pedagang pengumpul di tingkat kecamatan dengan harga Rp8.000 hingga Rp15.000/kilogram.
Para pedagang pengumpul di tingkat kecamatan kemudian menjualnya ke pedagang pengumpul di tingkat kabupaten dengan harga yang lebih tinggi.
"Para pedagang pengumpul di tingkat kabupaten kemudian menjualnya ke pedagang pengumpul antarpulau sehingga mete dari Bima ini menyebar ke Pulau Jawa hingga ke Makassar, untuk diolah kembali menjadi produk makanan," ujarnya.
Melihat peluang ekonomi dari nilai tambah biji mete, kata dia, para kelompok wanita petani mulai mencoba memproduksi kacang mete dan mengurangi penjualan dalam bentuk mete gelondongan.
Para wanita tani yang sudah membentuk industri rumah tangga itu memperoleh bantuan dari pemerintah berupa pelatihan pengemasan produk dan bantuan peralatan seperti kacip untuk membelah biji mete dan oven untuk memanaskan biji mete.
Harga biji mete gelondongan yang sudah diolah menjadi kacang mete siap konsumsi bisa mencapai Rp60.000/kilogram dan dipasarkan ke luar daerah, selain di tingkat lokal.
Usaha ekonomi produktif yang digeluti kelompok wanita tani itu bisa memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga petani di Kabupaten Bima.
"Kami akan terus berupaya memberikan bantuan kepada kelompok
usaha pengolah biji mete, namun secara bertahap sesuai dengan alokasi anggaran yang tersedia," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026