Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H Soegarenda, di Mataram, Senin, mengatakan, terjadinya deflasi karena adanya penurunan indeks pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.
"Penurunan indeks juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01 persen, kelompok sandang sebesar 0,18 persen," katanya.
Sementara kenaikan indeks, kata dia, terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan rekreasi dan olah raga 0,07 persen dan kelompok kesehatan 0,03 persen.
Menurut Soegarenda, deflasi yang terjadi pada November 2012 lebih rendah dibandingkan dengan deflasi pada bulan sebelumnya yang mencapai 0,48 persen.
Dengan laju deflasi sebesar 0,33 persen, Kota Mataram dan Kota Bima mengalami penurunan indeks harga konsumen (IHK) dengan tahun dasar 2007 = 100 dari 146,16 pada Oktober 2012 menjadi 146,12 persen pada November 2012.
"Dengan angka indeks tersebut, maka laju inflasi gabungan Kota Mataram dan Kota Bima tahun kalender (Oktober 2012 - Desember 2011) mencapai 3,49 persen dan laju inflasi tahun ke tahun (Oktober 2012 - Oktober 2011) mencapai 5,15 persen," katanya.
Soegarenda juga menyebutkan, pada Oktober 2012, dari 66 kota yang menghitung IHK, tercatat 33 kota mengalami inflasi dan 33 kota mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 1,01 persen dan terendah di Kota Jember sebesar 0,03 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Manokwari sebesar 0,96 persen dan terendah di Kota Semarang sebesar 0,01 persen.
Untuk Wilayah Bali dan Nusa Tenggara dari lima kota yang menghitung IHK tercatat dua kota mengalami inflasi, yaitu Kota Kupang sebesar 0,45 persen dan Kota Denpasar 0,13 persen.
Sementara tiga kota lainnya mengalami deflasi, yaitu Kota Maumere sebesar 0,88 persen, Kota Bima 0,08 persen dan Kota Mataram 0,01 persen.
(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026