Perjuangan memiliki kambing, menorehkan kenangan yang luar biasa. Ini sebenarnya tekat untuk mencoba memutus belenggu kemiskinan yang membelit hidup kami. Hidup kami sungguh berat saat itu"Di pasar hewan, anak saya memecah celengan tanah. Uang recehan berhamburan dan Subhanallah, begitu dihitung, jumlahnya Rp33 ribu. Pas dengan harga anak kambing yang mau kami beli," kata Sri Mardani, perempuan peternak kambing, dengan mata berkaca-kaca.
Sri Kambing, panggilan keseharian perempuan ini, sebenarnya terlampau berat menuturkan kisah mula dirinya mengakrabi kambing. Membuka awal masa dirinya dan anaknya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membeli kambing, selalu membuatnya tak mampu menahan air mata.
"Perjuangan memiliki kambing, menorehkan kenangan yang luar biasa. Tapi ini sudah menjadi tekat saya dan anak kedua saya, Marta Wirabuana, yang benar-benar menginginkan kambing. Ini sebenarnya tekat untuk mencoba memutus belenggu kemiskinan yang membelit hidup kami. Hidup kami sungguh berat saat itu," Sri berkisah seraya menghela napas panjang.
Kehidupan Sri pada tahun 1984, terbilang jauh dari arti kemapanan. Mereka hidup di rumah `bedeg' di Dusun Kampu, Desa Ketara, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Ketika itu, Sri yang telah memiliki dua putra, hanya menggantungkan hidup pada suaminya, Saipul Bahri, yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar. Sekolah itu jaraknya sekitar 20 km dari rumahnya, terletak di dekat Pantai Mawun, Lombok Tengah.
Gaji Saipul saat itu Rp27 ribu. Gaji itu, menurut Sri, sudah tentu sangat jauh dari kebutuhan hidup sehari-hari, karena suaminya tidak memiliki sepeda motor. Perjalanan pulang-pergi mengajar dilakukan menggunakan jasa tukang ojek, yang membutuhkan dana Rp800 setiap hari.
Hari demi hari, Sri tak henti-henti melantunkan dan menembangkan doa kepada Tuhan, agar diberi petunjuk langkah apa gerangan yang bisa dilakukannya untuk membantu suaminya menambah penghasilan.
Sedikit demi sedikit, doa Sri terjawab. Pada tahun 1990, di SDN Embung Rungkas diberlakukan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMATS). Sri ditunjuk sebagai pelaksana program tersebut, sehingga setiap hari selalu menyediakan makanan untuk siswa. Alhasil, ia bisa menyisihkan sedikit uang hasil jerih payahnya untuk ditabung.
Bersamaan dengan itu, Marta yang baru kelas satu SD, setiap hari bergiat mencari kayu untuk dijual kepada ibunya demi kelancaran program PMATS. Hasil penjualan itu ditabung di celengan tanah. Tidak hanya kayu, Marta pun tidak kenal lelah berjualan kelereng, layang-layang atau mangga kepada teman-temannya.
Setelah program PMATS selesai pada akhir 1991, Marta mengutarakan keinginannya untuk memiliki anak kambing, karena selama ini sering membantu neneknya menggembala kambing. Dada Sri tergetar karena diam-diam dirinya juga mempunyai keinginan yang sama.
"Pada suatu hari, Marta berkata ingin membeli anak kambing dengan uang di celengannya. Saya menyuruhnya menghitung uang itu, tapi dia tidak mau. Marta bilang baru mau membuka celengan kalau di depan penjual kambing," kata perempuan kelahiran tahun 1966 ini.
Keesokan harinya, setelah ijin suaminya, Sri membawa uang tabungannya sendiri sebanyak Rp60 ribu, bersama Marta yang menggendong celengannya, berangkat menuju pasar ternak.
"Di pasar ternak itu, Marta memecahkan celengannya. Saya menahan-nahan untuk tidak menangis melihat itu. Ini benar-benar jalan Tuhan. Tabungan anak saya tepat dengan harga anak kambing yang berumur lima bulan, Rp33 ribu," ujar Sri dengan suara menahan gejolak perasaan.
Setelah membeli anak kambing itu, giliran Sri yang membeli kambing betina seharga Rp58.000. Sisa uangnya tinggal Rp2 ribu. Uang itu digunakan untuk membayar cidomo, karena jarak pasar ternak ke rumahnya cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan membawa kambing dengan berjalan kaki.
"Saat itu, cuaca sedang sangat panas. Marta merengek minta beli minum es, tapi saya tidak mampu membelikan karena tidak uang lagi tersisa. Saya bilang, Nak, nanti saja di rumah dibikinkan teh. Untung Marta mau mengerti," Sri berujar lirih.
Diperlakukan seperti manusia
Berbagi tugas dengan anak-anaknya, Sri pun menggembala kambing. Setiap hari, kambing digembalakan dua kali, pada pagi dan sore hari. Pekerjaan ini dilakoni dengan senang hati, namun respons masyarakat sekitarnya justru sebaliknya.
"Sepanjang hari, tanpa henti saya dan anak saya dicemooh orang-orang. Mereka bilang, kenapa suaminya jadi pegawai negeri, kok mau-maunya menggembala kambing. Tapi saya tidak surut dengan cemoohan itu," kata perempuan yang dikenal ramah ini.
Cemoohan itu, justru menjadi penyemangat bagi Sri untuk membuktikan kepada masyarakat kalau menggembala kambing bukanlah pekerjaan yang memalukan. Sri pun makin perhatian kepada ternak kambingnya yang makin bertambah jumlahnya.
"Kalau ada kambing yang sakit kepala, terus-menerus menggelengkan kepala, saya kasih obat manusia, itu yang namanya puyer. Kalau mengembik terus, gelisah seperti sakit perut, saya kasih obat tetra. Dosisnya sama seperti manusia," katanya sembari terkekeh.
Bahkan, kata Sri, ada beberapa kambingnya yang rambutnya terlalu panjang sehingga menutupi mata. Sri pun memotong rambut itu, sehingga menjadi poni dan sebagian rambut lainnya dikuncir dan diberi hiasan bunga.
Kasih sayang Sri terus berlanjut. Jika ada induk kambing melahirkan tiga anak, sehingga salah satunya tidak mendapatkan jatah susu, maka dia pun mengupayakan memberikan susu formula sehingga pertumbuhannya sama besarnya dengan anak kambing yang mendapat susu dari induknya.
Perbedaan pemberian susu, ternyata melahirkan karakter yang berbeda kepada kambing. Anak kambing yang mendapat susu dari ibunya, akan terus mengikuti ibunya. Sebaliknya, anak kambing yang mendapat susu formula, akan lengket kepada manusia yang setiap hari memberinya susu formula.
"Ada anak kambing yang sangat lengket pada saya, selalu bermanja-manja kepada saya setiap hari. Setiap saya pulang, anak kambing ini selalu mengikuti saya. Namun, pada saya mengikuti pelatihan di Sanur, Bali, suami saya terpaksa menjual kambing ini karena tidak ada uang untuk membeli kabel listrik. Habis-habisan saya menangisi anak kambing ini," Sri mengatakan dengan mata menyorot duka.
*) Penulis buku dan artikel
Pewarta : Tri Vivi Suryani*
Editor:
Dina
COPYRIGHT © ANTARA 2026