"Dengan nilai ekspor lebih tinggi dibanding nilai impor, neraca perdagangan luar negeri NTB pada pada semester I/2016 surplus 691,15 juta USD"
Mataram (Antara NTB) - Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat merilis nilai ekspor komoditas NTB pada semester I/2016 mencapai 771,12 juta dolar AS atau lebih lebih tinggi dibandingkan impor sebesar 79,969 juta dolar AS.

"Dengan nilai ekspor lebih tinggi dibanding nilai impor, neraca perdagangan luar negeri NTB pada pada semester I/2016 surplus 691,15 juta dolar AS," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Ni Kadek Adi Madri, di Mataram, Jumat.

Komoditas yang dominan menyumbang nilai ekspor, kata dia, adalah barang tambang yang mencapai lebih dari 90 persen dari total nilai ekspor, disusul perhiasan atau permata, perabot rumah, produk keramik, bahan anyaman, buah-buahan, sayuran, ikan dan udang, daging serta ikan olahan.

Negara tujuan ekspor adalah Filipina, Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Tiongkok, Hong Kong, Korea, Taiwan, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Kadek menyebutkan pihaknya mencatat komoditas yang diekspor melalui Pelabuhan Benete, Kabupaten Sumbawa Barat, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Selain itu juga dikirim melalui Bandara Internasional Lombok, Bandara Soekarno-Hatta, dan Bandara Ngurah Rai Bali.

"Kami juga mendapat data komoditas yang diekspor melalui paket kiriman PT Pos Indonesia senilai 7.437 dolar AS selama Juni 2016," ujarnya.

Menurut dia, surplus nilai ekspor NTB bisa lebih besar jika seluruh komoditas yang dibawa keluar negeri terdata seluruhnya, baik yang dibawa melalui bandara maupun pelabuhan di provinsi lain.

Upaya untuk mendata komoditas ekspor secara menyeluruh ke depannya akan dilakukan, terutama yang melalui perbatasan daratan antardaerah. Namun, untuk melakukan hal itu terlebih dahulu dilakukan survei dan dikoordinasikan dengan BPS Pusat.

"Memang ada komoditas yang diekspor, tapi belum terdata oleh kami karena dikirim melalui daerah lain, tapi kami ada arah ke sana (mendata), tapi perlu dilakukan survei dulu," ujarnya. (*)


Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2026