Mataram (ANTARA) - Dunia kepenulisan kontemporer sering kali diposisikan sebagai panggung eksistensial yang gemerlap, namun bagi subjek kita kali ini, menulis adalah sebuah mekanisme pertahanan psikologis dalam menghadapi solitude yang akut. Baginya, setiap goresan pena atau ketukan tuts keyboard bukan sekedar proses kreatif, melainkan sebuah curhat terstruktur yang mencoba menegosiasikan rasa sepi dengan realitas yang kian menjauh.
Secara fenomenologis, interaksi sang penulis dengan teksnya merupakan bentuk komunikasi intrapersonal yang sangat intim, namun sekaligus menyedihkan. Ia menuangkan segala melankoli dan kecemasan eksistensial ke dalam narasi yang disusun dengan ketelitian akademis, seolah-olah kesedihannya memerlukan catatan kaki agar terlihat valid. Sayangnya, di era di mana rentang perhatian manusia lebih pendek daripada masa berlaku kuota internet promosi, tulisan yang mendalam ini sering kali berakhir menjadi artefak digital yang membatu di sudut blog yang tak pernah dikunjungi oleh algoritma mana pun.
Masalah mendasar muncul ketika sang penulis menyadari bahwa masyarakat modern mengalami pergeseran paradigma dari budaya literasi menuju budaya scrolling instan. Alih-alih mendapatkan empati yang memvalidasi luka batinnya, karya-karyanya justru berhadapan dengan tembok ketidakpedulian kolektif yang dingin. Secara sosiologis, ini adalah tragedi. Sang penulis mengharapkan resonansi emosional dari pembaca, namun yang ia temukan hanyalah statistik "0 views" yang menatapnya balik dengan penuh sarkasme, seolah-olah semesta sedang menertawakan upayanya mencari koneksi lewat kata-kata.
Kelucuan yang getir muncul saat ia mencoba menyelipkan "teriakan minta tolong" di balik metafora yang rumit, berharap ada jiwa sensitif yang mampu melakukan dekonstruksi terhadap maknanya. Namun, alih-alih mendapatkan pelukan virtual atau simpati yang tulus, komentar paling progresif yang mungkin ia terima, jika beruntung, hanya berupa bot yang menawarkan jasa penambah pengikut Instagram. Di sini, terjadi diskoneksi yang lucu sekaligus menyentuh antara kedalaman emosi yang ia tawarkan dengan kedangkalan respons yang tersedia di pasar perhatian digital yang kejam ini.
Penulis akan tetap bertahan dalam kesunyiannya, memeluk naskah-naskahnya layaknya seorang ibu yang memeluk anak yang tak pernah dikenal dunia. Ia menyadari bahwa di zaman ini, menulis mungkin bukan lagi tentang dibaca, melainkan tentang menjaga kewarasan agar tidak meledak di tengah keramaian yang tuli. Meski tulisannya hanya menjadi dialog sunyi antara dirinya dan kursor yang berkedip, ia tetap mengetik dengan penuh martabat, membuktikan bahwa meski empati sulit dicari, dedikasi terhadap rasa sakit adalah bentuk keberanian yang paling murni sekaligus paling lucu.
COPYRIGHT © ANTARA 2026