Mataram, 21/12 (ANTARA) - Harga mutiara di pasaran dunia akibat krisis finansial global anjlok dari Rp200.000  menjadi Rp50.000/gram.

   "Meski anjlok masih juga kurang laku sehingga pengusaha mutiara yang jumlahnya puluhan di NTB harus jeli melihat peluang pasar," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan NTB Ir. H. Ali Syahdan di Mataram, Senin.

   Ia mengatakan sebelum krisis finsnsial global, berapa pun banyaknya produksi mutiara NTB dapat langsung diekspor ke Jepang dan sejumlah negara lainnya, bahkan perusahaan kewalahan menerima pesanan.

   Namun sekarang perusahaan mutiara tersebut lesu dan merugi  akibat produksi mutiara yang tidak laku dijual di pasaran internasional, apalagi biaya produksi sangat tinggi sehingga berakibat dilakukannya pemutudan hubungan kerja terhadap karyawan.

   Menurut dia NTB terkenal sebagai salah satu daerah penghasil mutiara. Lokasi budi daya mutiara di daerah ini juga dijadikan objek wisata terutama bagi wisatawan asing.

   Ia mengatakan sedikitnya  20 perusahaan mutiara di daerah ini terancam  gulung tikar atau tidak beroperasi akibat krisis finansial global yang masih melanda dunia saat ini.

   "Sexdangkan sejumlah perusahaan mutiara lainnya masih beroperasi namun volue dan nilai ekspornya sangat kecil sehingga dikhwatirkan akan ikut  gulung tikar juga," katanya.

  Perusahaan mutiara di NTB kemungkinan juga di daerah lain cukup banyak yang bangkrut karena saat ini tidak ada negara yang mau membeli mutiara terutama Jepang.

   "Akibatnya mutiara tersebut hanya dijual di pasaran lokal," katanya.(*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026