Mataram, 17/7 (ANTARA) - Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat belum mampu memberikan sentuhan khusus untuk pengembangan komoditas kedelai karena terkendala harga yang masih rendah.

         Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Pending Dadih Permana mengatakan harga kedelai di tingkat petani saat ini antara Rp3.800,00 per kilogram dan Rp4.200,00/kg.

         "Harga itu masih dianggap sangat tidak layak. Layaknya harga kedelai ini satu setengah kali lipat dari harga beras, atau paling tidak antara Rp6.800,00/kg dan Rp7.400,00/kg," katanya.

         Ia menyebutkan produksi kedelai NTB menduduki peringkat ketiga terbesar nasional, atau berada di bawah Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan jumlah produksi rata-rata mencapai 103 ribu lebih ton/tahun.

         Pada 2010, pihaknya menskenariokan luas lahan produksi kedelai mencapai 97.298 hektare. Hingga Juni 2010, jumlah luas lahan tanam sudah mencapai 41.705 ha dengan total rata-rata produksi mencapai 1,4 ton/ha.

         "Potensi produksi kedelai di NTB cukup besar. Kedelai selama ini banyak dibuat untuk berbagai macam bentuk panganan oleh pelaku industri lokal. Namun, petani belum memperoleh nilai tambahnya karena harga yang belum layak," katanya menegaskan.

         Menurut dia, relatif rendahnya harga kedelai sebagai akibat dari adanya permainan empat importir besar nasional yang membuat gerak langkah pengembangan kedelai lebih luas terhambat.

         "Harga hasil produksi yang rendah itu akhirnya membuat para petani jarang yang mau menanam," katanya menandaskan.

         Secara nasional, kata Pending, kebutuhan kedelai sebanyak 2,36 juta ton. Indonesia masih defisit sebanyak 1,06 juta ton.

         Untuk menyiasati defisit produksi, pemerintah pusat membuat upaya khusus dalam penanganan kedelai dengan menambah lahan tanam seluas 100 ribu ha.

         Sementara di wilayah NTB, tambah dia, pihaknya melakukan uji coba pengembangan kedelai dengan sistem toping pada kedelai yang baru berusia 10 hari menggunakan "agrobost", yaitu salah satu jenis pupuk organik cair yang mampu memunculkan banyak cabang produktif sehingga berdampak pada produksi.

         "Hasil uji coba kita produksi kedelai bisa mencapai 2,8 ton/ha. Cukup besar dari rata-ratanya 1,3 ton/ha. Itu pun dengan tambahan biaya hanya Rp580 ribu/ha," katanya menjelaskan. (*)