Mataram (ANTARA) - Pada tanggal 24 Maret WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menetapkan hari TB (Tuberkolosis) dunia. Penetapan tanggal ini merujuk pada saat pertama kali Robert Koch menemukan bakteri TB. 

TB masih merupakan masalah Kesehatan yang penting di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah kasus TB terbanyak di dunia. 

Tuberkulosis pada anak merupakan komponen penting dalam pengendalian TB oleh karena jumlah anak berusia kurang dari 15 tahun adalah 40 persen-50 persen dari jumlah seluruh populasi dan terdapat 500.000 anak menderita TB setiap tahun. 

Pada tahun 2019 kasus TB anak di Indonesia mencapai 70.341. Setiap harinya, sekitar 193 anak Indonesia terkena TB. Kasus TB anak termasuk rentang usia 0 sampai 14 tahun. 

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi NTB pada tahun 2019 terdapat 7.305 anak berusia 0-14 tahun terkena TB, 186 diantaranya berasal dari Kabupaten Lombok Utara.
 
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainya termasuk ginjal, tulang, limfe dan selaput otak. 

Kuman ini dapat menular dari penderita melalui udara, ketika penderita TB paru batuk, bersin atau meludah mereka mengeluarkan kuman TB ke udara yang dapat dihirup oleh orang sehat. Cara transmisi yang sederhana seperti ini menyebabkan angka kejadian TB mudah meningkat.
 
Anak merupakan kelompok risiko tinggi terkena infeksi TB karena kekebalan tubuh anak belum berkembang sempurna. Mayoritas anak tertular TB dari pasien TB dewasa. Pada orang desawa gejala TB cenderung mudah dikenali, namun untuk gejala pada anak sangatlah berbeda dengan orang dewasa. 

Gejala klinis TB pada anak dapat berupa gejala umum atau sesuai organ terkait. Gejala umum TB pada anak yang sering dijumpai adalah batuk persisten, berat badan turun dalam dua bulan terakhir, gagal tumbuh, demam lama, lesu, tidak aktif dan terdapat benjolan di kelenjar daerah leher rahang bawah, ketiak dan selangkangan. Gejala-gejala tersebut menetap lebih dari dua minggu walaupun sudah diberikan obat-obatan dan nutrisi yang adekuat.
 
Secara umum penegakan diagnosis TB pada anak didasarkan pada empat hal, yaitu konfirmasi bakteriologis TB, gejala klinis yang khas TB, adanya bukti infeksi TB (uji tuberkulin positif atau kontak erat dengan pasien TB) dan gambaran foto rontgen yang sugestif TB. Untuk memudahkan penegakan diagnosis TB anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan dengan menggunakan sistem skoring yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. 

TB pada anak dapat disembuhkan melalui pengobatan medis yang benar. Namun untuk mencapai kesehatan maksimal membutuhkan waktu yang lama yaitu 6-12 bulan. Masa pengobatan TB memang lama sehingga perlu kedisiplinan minum obat sesuai anjuran.
 
Tips untuk orang tua agar bayi dan anak dapat terhindar dari TB adalah sebagai berikut :

1. Hindari kotak langsung dari orang yang menderita TB
2. Imunisasi Bacillus Calmette- Guerin atau BCG
3. Menjaga pola hidup sehat anak dengan memberikan asupan gizi yang yang cukup
4. Minum obat-obatan pencegahan (sesuai dengan resep dokter) pada anak balita yang kontak erat dengan penderita TB aktif
5. Memakai masker
 
Siapapun bisa berisiko terinfeksi TB akan tetapi dengan menerapkan pola hidup sehat dan bersih salah satu cara terbaik untuk mencegah daripada mengobati. Salam sehat!
 

Sumber : Pusat data Informasi Kemenkes RI, WHO Global Tuberkulosis Report, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan TB

Pewarta : dr. Eriska Ayu Wirindri (*)
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024