Praya, Lombok Tengah (ANTARA) - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Muzakir Langkir mengatakan, hingga saat ini belum ada pasien kasus hepatitis yang dirawat di rumah sakit maupun yang dilaporkan oleh masyarakat.

"Pasien hepatitis belum ada yang ditemukan," katanya saat berkunjung di kantor Bupati Lombok Tengah di Praya, Rabu. 

Meskipun tidak ada pasien kasus hepatitis yang ditemukan, pihaknya berharap kepada masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga pola makan anak serta lingkungan dalam rangka mencegah penyebaran penyakit hepatitis tersebut. 

"Makanan yang diberikan kepada anak harus tetap kita awasi, supaya bersih dan sehat," katanya. 

Dalam rangka mengantisipasi masuknya penyakit hepatitis tersebut, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Lombok Tengah dengan mengeluarkan surat imbau melalui puskesmas guna bersama-sama mencegah penyebaran penyakit tersebut. 

"Kita berharap semoga tidak ada di Lombok Tengah," katanya. 

Penyakit hepatitis tersebut menyebar melalui makanan, sehingga pola makan harus dijaga. Selain itu, hepatitis itu sangat rentan terhadap anak-anak, meskipun kasus ini bisa terjadi kepada orang dewasa.

"Sampai saat ini tidak ada anak yang terkena penyakit tersebut," katanya. 

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan gejala berat pasien hepatitis akut misterius pada anak di bawah umur 16 tahun umumnya terjadi dalam rentang waktu dua pekan yang ditandai dengan hilang kesadaran atau kejang.

"Makanya disebut hepatitis akut berat, karena dalam 14 hari orang yang terkena jadi kejang dan terjadi penurunan kesadaran, kalau hepatitis normal tidak sampai kejang," kata Siti Nadia Tarmizi yang dikonfirmasi di Jakarta.

Klasifikasi hepatitis misterius probable ditandai dengan laporan nonreaktif pada pemeriksaan hepatitis A, B, C, D, dan E maupun virus lainnya, seperti dengue maupun Adenovirus 41.

Kemenkes RI sedang memperkuat peran diagnosa pasien bergejala hepatitis di seluruh Puskesmas di Tanah Air. Sebab, kunci mencegah kasus kematian pada pasien adalah kecepatan diagnosa dan penanganan medis.

"Sifatnya kewaspadaan demam kuning. Apapun gejalanya, Puskesmas harus turun cek lingkungan, ambil sampel feses pasien dan diperiksa. Puskesmas akan lihat, apakah perlu rujukan ke rumah sakit atau tidak," katanya.

 

Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024