Mataram, 26/2 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menjabarkan program implementasi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 27 Mei 2011, sesuai keunggulan daerah.

     "Penjabarannya mengarah kepada program unggulan yang juga telah dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yakni bidang parwisata, pertanian-peternakan, dan perikanan dan kelautan," kata Kabag Humas dan Protokoler Setda Nusa Tenggara Barat (NTB) H Lalu Moh Faozal, di Mataram, Minggu.

     Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB itu mengatakan, pada naskah direktif Presiden dalam mengimplementasikan MP3EI, ditegaskan bahwa harus ada upaya mempercepat kesiapan pembangunan di wilayah NTB antara lain infrastruktur dalam tiga tahun ke depan, dan harus memberikan hasil nyata.

     Selain itu, NTB dituntut untuk menyusun rencana yang lebih pasti mengenai investor yang dapat mendanai pengembangan daerah, dan memenuhi "timeline" pembangunan fisik terowongan guna memenuhi ketersediaan sumber daya air, agar dapat diresmikan oleh Presiden pada akhir 2012.       

     Seperti provinsi lain, NTB juga dituntut untuk menindaklanjuti biota laut spon dan vorivera yang diperkirakan dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS.    

     "Hal lainnya yakni melakukan kajian cepat mengenai kemungkinan Provinsi NTB menyelenggarakan even berskala internasional, dan menetapkan kawasan Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Nasional (Parnas)," ujar Faozal.

     Dari direktif Presiden terkait implementasi MP3EI itu, kata Faozal, Pemprov NTB kemudian menyusun strategi pengembangan SDM dan iptek sesuai keunggulan koridor V MP3EI (mencakup wilayah NTB, Bali dan NTT).

     Ia menyebut strategi pengembangan di sektor perikanan, antara lain pendirian pusat pelatihan nelayan dan pengadaan program sertifikasi, pengembangan bibit unggul dan teknologi penangkapan ikan, dan pemberian pendampingan pada UKM perikanan untuk meningkatkan pengetahuan pengolahan yang memiliki nilai tambah tinggi serta pemberian skema mikro kredit PNPM Mandiri melalui koperasi nelayan.

     Selain itu, penjalinan kerjasama dengan lembaga penelitian dan Universitas setempat untuk pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan bernilai jual lebih tinggi, penjalinan kerjasama dengan lembaga penelitian dan Universitas setempat untuk pengembangan teknologi budidaya garam  agar tidak tergantung pada cuaca.

     "Strategi lainnya yakni pendirian pusat pelatihan budidaya garam dengan skala layanan kabupaten untuk diseminasi teknik dan kemungkinan integrasi penggunaan lahan tambak garam dan budidaya perikanan," ujarnya.

     Sementara itu, strategi di sektor kelautan berupa riset tentang budidaya perikanan, riset pemetaan lokasi dan bibit rumput laut kualitas unggul, riset mengenai spoon poleivera, perkuatan SDM dan kelembagaan "seaweed center", pengembangan "biorock" pada kawasan wisata alam laut, dan pengembangan SDM untuk kemitraan usaha klaster rumput laut.

     Faozal mengatakan, strategi di sektor peternakan berupa menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun dengan teknologi pakan murah untuk pemenuhan kebutuhan daging lokal dari produksi dalam negeri, dan mengadakan pelatihan dan pendampingan kelompok peternak dalam rangka penerapan program "Good Breeding Practice".

     "Strategi lainnya yakni mengembangkan teknologi untuk perbaikan mutu bakalan melalui inseminasi buatan, embrio transfer atau rekayasa genetika dalam waktu panjang," ujarnya.

     Sedangkan strategi di sektor pariwisata antara lain berupa pembangunan SDM Politeknik Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pengembangan iptek bidang penataan, pengelolaan dan pemantauan lingkungan dan kawasan wisata. (*)