Mataram, 5/10 (ANTARA) - Menteri Pertanian H Suswono mengatakan, pemerintah selalu melibatkan pengusaha dalam mengimplementasikan kesepakatan kerja sama yang dicapai dalam pertemuan delapan negara berkembang yang tergabung dalam organisasi kerja sama ekonomi (D-8).
"Keterlibatan sektor swasta sangat penting dalam implementasinya, sehingga Indonesia selalu libatkan pengusaha, jadi bukan hanya G to G (antarpemerintah)," kata Suswono, usai pembukaan pertemuan lanjutan D-8 bidang ketahanan pangan di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat.
Pertemuan lanjutan D-8 itu dimulai sejak Rabu (3/10) pagi, dan akan berakhir Jumat (5/10) malam, yang digelar di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat.
Hari pertama pertemuan diawali dengan kelompok diskusi (working group), dan dilanjutkan dengan pertemuan level pejabat tinggi, pada Kamis (4/10), dan pertemuan level menteri pada Jumat (5/10).
Terdapat lima kelompok diskusi sesuai bidang pembahasan yakni pakan ternak, benih, standarisasi produk, industri pupuk, dan bidang perikanan.
Pertemuan D-8 yang digelar di Lombok itu merupakan kegiatan ketiga setelah pertemuan pertama di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2009, kemudian pertemuan kedua di Teheran, Iran, pada 2011.
Pesertanya sekitar 70 hingga 100 orang dari delapan negara berkembang, yakni Iran, Pakistan, Malaysia, Nigeria, Mesir, Bangladesh, Turki, dan Indonesia.
Suswono mengatakan, kerja sama bileteral negara-negara anggota D-8 harus tetap melibatkan sektor swasta, karena kalangan pengusaha merupakan eksekutor atas jalinan kerja sama bidang ketahanan pangan.
"Misalnya kerja sama Indonesia dengan Nigeria, sudah ada swasta yaang terlibat, bahkan ada pengusaha mau investasi di Nigeria. Jadi, memang mau tidak mau pengusaha harus dilibatkan," ujarnya.
Suswono tidak menyebut pengusaha Indonesia yang berminat investasi bidang pertanian di Nigeria, namun informasi yang berkembang menyebutkan beberapa perusahaan skala besar Indonesia berminat ekspansi ke Nigeria karena sudah merasakan kemudahan yang dijanjikan pemerintah Nigeria.
Kalbe Farma dan Salim Group misalnya, telah memberikan testimoni langsung atas kondisi di di Nigeria, dan akan segera berinvestasi di negara dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan sahara yang memiliki sumber daya alam cukup besar baik komoditas maupun energi. (*)