Mataram, (Antara Mataram) - Divisi Regional Bulog Nusa Tenggara Barat akan "memborong" beras petani senilai Rp1,3 triliun pada musim panen 2013, dan rencana pengadaan sebanyak 200 ribu ton beras.

"Ini dalam upaya mengamankan stok nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah itu," kata Kepala Divisi Regional (Divre) Bulog NTB Muhammad Hasyim di Mataram, Senin.

Ia mengatakan apabila rencana pengadaan beras/gabah sebanyak 200 ribu ton tersebut terealisasi, maka ini merupakan pengadaan terbanyak dalam sejarah berdirinya Divre Bulog NTB. "Kita ingin membuat sejarah pengadaan tertinggi," katanya.

Pihaknya optimistis rencana pengadaan beras sebanyak itu bisa diwujudkan, sepanjang tidak ada kendala, baik secara internal maupun eksternal.

"Yang menjadi salah satu kendala adalah keterbatasan daya tampung gudang, karena hampir semua gudang di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa sudah penuh," katanya.

Untuk pengadaan beras/gebah tersebut, menurut dia, sudah tersedia dana sebesar Rp1,3 triliun, dan itu merupakan dana segar yang bisa dipakai langsung untuk membeli beras atau gabah petani. Kalau ada yang menjual akan dibeli secara kontan, pembayaran tidak akan ditunda.

"Dana sebesar Rp1,3 triliun untuk membeli beras petani itu akan memberikan `multiplier effect` (berdampak banyak sektor). Saat ini sangat langka investasi sebesar itu masuk ke NTB, dana cukup besar itu diharapkan dapat menunjang peningkatan kejahteraan petani di daerah ini," katanya.

Menurut dia, di satu sisi sebagian besar petani sebagai penerima beras untuk rakyat miskin (raskin) di sisi lain beras itu dibeli dari para petani. Ini memberikan efek ganda yang pada akhirnya juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di NTB.

Ia mengatakan, dari rencana pengadaan sebanyak 200 ribu ton pada 2013, hingga Juni 2013 telah terealisasi sebanyak 126 ribu ton. "Ini baru pertengahan tahun, masih ada waktu sekitar enam bulan untuk melakukan pengadaan, sehingga rencana pengadaan itu optimistis tercapai," katanya.

Menurut dia, apabila pada panen musim kering (MK) 2014 berhasil membeli 126 ribu ton, maka rencana pengadaan sebanyak 200 ribu ton kemungkinan akan terlampaui.

Selama Mei saja, kata dia, berhasil membeli beras/gabah petani sebanyak 50 ribu ton.

Hasyim mengatakan, dari pengadaan beras/gabah sebanyak 200 ribu ton, kebutuhan beras untuk NTB selama satu tahun hanya 90 ribu ton, sehingga kalau bisa direalisasikan rencana pengadaan sebanyak itu, masih ada kelebihan sebanyak 110 ribu ton.

Kelebihan sebanyak 100 ribu ton lebih itu akan dimanfaatkan untuk melayani kebutuhan beras provinsi lain, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini juga akan memberikan "multiplier effect", kerena yang mendapat keuntungan NTB yang menjual beras.

"Pada 2013 kita akan move out beras ke beberapa provinsi sebanyak 100 ribu ton, antara lain ke NTT. Hingga kini kita baru mengelurkan beras dari NTB untuk membantu kekurangan beras di daerah lain sebanyak 15 ribu ton, kita akan meminta Bulog pusat untuk segera merealisasikan pengiriman beras ke beberapa provinsi," kata Hasyim. (*)  

Pewarta : Oleh Masnun
Editor : Masnun
Copyright © ANTARA 2024