Mataram (Antara NTB) - Direktur Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB dr H Mawardi Hamry MPPM yang dilaporkan hilang dari rumah dinasnya sejak Rabu (23/3) kemungkinan diculik, kata salah seorang anggota keluarganya di Mataram, Sabtu.

Zulkifli Hamry, adik kandung dr Mawardi, mengatakan pihak keluarga mulai menduga hilangnya Direktur RSUP NTB itu terkait aksi penculikan.

"Dugaan hilang karena diculik pasti ada. Tetapi kita berharap tidak demikian," kata Zulkifli Hamry saat ditemui di rumah dinas Direktur RSUP NTB di Jalan Langko 31 Mataram.

Menurut dia, meski pihak keluarga menduga peristiwa hilangnya Direktur RSUP NTB ini ada kaitan dengan kasus penculikan, namun dia berharap kakaknya itu pulang ke rumah dengan selamat.

"Kami meminta dukungan semua pihak dan mendoakan agar dr Mawardi pulang dengan keadaan sehat dan selamat, tanpa terjadi sesuatu apapun," ujarnya.

Ia menuturkan, sejak dinyatakan hilang, pihak keluarga sudah mencari dan menghubungi ke mana-mana, termasuk menghubungi rekan kerjanya.

Namun hingga sekarang hasilnya masih nihil. Bahkan, nomor "handphone" milik Direktur RSUP NTB itu sudah tidak aktif lagi.

"Biasanya kalau ke luar rumah selalu izin dan selalu ditemani," katanya.

Diakui Zulkifli, sebelum menghilang pihak keluarga tidak melihat ada tanda-tanda aneh dalam diri dr Mawardi. Bahkan dia selalu menunjukkan keceriaan dengan keluarga.

Karena itu, dia meminta masyarakat untuk membantu dan mendoakan agar dr Mawardi bisa ditemukan dan kembali dalam keadaan sehat.

Kapolres Mataram AKBP Heri Prihanto membenarkan hilangnya Direktur RSUP NTB itu. Kabar hilangnya dr Mawardi pertama kali dilaporkan ke polisi oleh salah seorang anggota sekuriti bernama Sri Darmo yang sehari-hari bertugas di rumah dinas Direktur RSUP NTB tersebut.

"Terkait hilang atau tidak, polisi masih melakukan penyelidikan," katanya.

Menurut laporan yang diterima, dr Mawardi diketahui tidak kembali lagi sejak pergi dari rumah dinasnya Rabu (23/3). Dari laporan tersebut, pihaknya langsung memeriksa sejumlah orang terdekat terutama yang berada di rumah.

"Sudah enam orang kami periksa untuk menjadi saksi termasuk anggota sekuriti tersebut," kata Kapolres. (*)

Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2024