PLN Nusra Minta Pelajar Dukung Program 35.000 MW
Selasa, 23 Agustus 2016 20:41 WIB
Ratusan pelajar SMA Negeri 1 Mataram mendapat pelajaran tentang program pemerintah di bidang kelistrikan dari PLN UIP Jaringan Nusa Tenggara. (ANTARA NTB/Awaludin) (1)
Mataram (Antara NTB) - Perseroan Terbatas Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Proyek XI Jaringan Nusa Tenggara meminta para pelajar mendukung program pembangunan kelistrikan 35.000 mega watt (MW) yang merupakan program prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo.
"Kami menyosialisasikan program kerja PLN ke depan, khususnya tentang program 35.000 MW, ayo kita dukung dan sukseskan program tersebut karena ini juga buat masa depan para siswa yang sekarang masih berada di bangku sekolah," kata General Manager PLN Unit Induk Proyek (UIP) XI Jaringan Nusa Tenggara (Nusra) Octavianus Padudung, di Mataram, Selasa.
Permintaan dukungan tersebut disampaikan pada acara PLN mengajar di SMA Negeri 1 Mataram, sebagai bagian dari program Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Hadir untuk Negeri. Kegiatan PLN mengajar tersebut digelar secara serentak di seluruh Indonesia, sebagai rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Padudung mengatakan program pembangunan kelistrikan 35.000 MW itu harus bersamaan dengan pembangunan jaringan transmisi dan gardu induknya.
Oleh sebab itu, perlu dukungan semua pihak, termasuk para pelajar SMA Negeri 1 Mataram yang mendapat pemahaman tentang program kelistrikan nasional tersebut. Mereka bisa menyosialisasikan pemahaman yang diperoleh kepada keluarga, kerabat dan masyarakat di sekitar lingkungannya.
"PLN tidak mungkin bisa menjangkau semua untuk sosialisasi, jadi butuh dukungan semua pihak karena listrik untuk kehidupan yang lebih baik. Kalau pembangunan listrik tidak ada, bagaimana kehidupan lebih baik bisa terwujud," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Padudung memberikan pemahaman kepada siswa-siswa SMA Negeri 1 Mataram, terkait masih adanya penolakan masyarakat dalam proses pembangunan jaringan transmisi karena menganggap berbahaya.
Padahal, induksi elektromagnet dan induksi listrik dari jaringan transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) dan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Masyarakat yang tinggal di bawah jaringan SUTT/SUTET juga tidak akan berbahaya sepanjang bangunan tempat tinggal tidak masuk dalam ruang bebas. Hal itu dibuktikan dengan kondisi masyarakat yang tinggal di bawah jaringan transmisi di Pulau Jawa.
Fakta radiasi SUTT/SUTET tidak berbahaya karena berada di bawah ambang batas juga sudah dibuktikan secara ilmiah oleh para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI).
"Jadi kami sudah jelaskan kepada para siswa yang mana jarak minimun dan yang mana ruang bebas. Supaya kita sama-sama tahu, supaya kita tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang mengatakan bahwa hidup di bawah jaringan SUTT/SUTET berbahaya," ucapnya.
PLN, kata dia, juga memberikan kompensasi kepada masyarakat yang berada di bawah jaringan transmisi. Nilai kompensasi tanah, bangunan dan tanaman di bawah jaringan transmisi yang disampaikan kepada masyarakat bukan dibuat oleh PLN, tapi oleh konsultan jasa penilai publik (KJJP).
"Kompensasi tanah dan bangunan berdasarkan keputusan menteri, maksimum 15 persen dari harga sesuai yang ditetapkan oleh KJJP. Jadi pakai apraisal bukan nilai jual objek pajak (NJOP)," katanya.
Selain mengharapkan dukungan para siswa, PLN UIP XI Jaringan Nusra juga menyampaikan kebutuhan sumber daya manusia untuk mendukung program pembangunan kelistrikan 35.000 MW serta program beasiswa dari PLN yang bisa dimanfaatkan oleh para pelajar SMA Negeri 1 Mataram. (*)
"Kami menyosialisasikan program kerja PLN ke depan, khususnya tentang program 35.000 MW, ayo kita dukung dan sukseskan program tersebut karena ini juga buat masa depan para siswa yang sekarang masih berada di bangku sekolah," kata General Manager PLN Unit Induk Proyek (UIP) XI Jaringan Nusa Tenggara (Nusra) Octavianus Padudung, di Mataram, Selasa.
Permintaan dukungan tersebut disampaikan pada acara PLN mengajar di SMA Negeri 1 Mataram, sebagai bagian dari program Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Hadir untuk Negeri. Kegiatan PLN mengajar tersebut digelar secara serentak di seluruh Indonesia, sebagai rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Padudung mengatakan program pembangunan kelistrikan 35.000 MW itu harus bersamaan dengan pembangunan jaringan transmisi dan gardu induknya.
Oleh sebab itu, perlu dukungan semua pihak, termasuk para pelajar SMA Negeri 1 Mataram yang mendapat pemahaman tentang program kelistrikan nasional tersebut. Mereka bisa menyosialisasikan pemahaman yang diperoleh kepada keluarga, kerabat dan masyarakat di sekitar lingkungannya.
"PLN tidak mungkin bisa menjangkau semua untuk sosialisasi, jadi butuh dukungan semua pihak karena listrik untuk kehidupan yang lebih baik. Kalau pembangunan listrik tidak ada, bagaimana kehidupan lebih baik bisa terwujud," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Padudung memberikan pemahaman kepada siswa-siswa SMA Negeri 1 Mataram, terkait masih adanya penolakan masyarakat dalam proses pembangunan jaringan transmisi karena menganggap berbahaya.
Padahal, induksi elektromagnet dan induksi listrik dari jaringan transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) dan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Masyarakat yang tinggal di bawah jaringan SUTT/SUTET juga tidak akan berbahaya sepanjang bangunan tempat tinggal tidak masuk dalam ruang bebas. Hal itu dibuktikan dengan kondisi masyarakat yang tinggal di bawah jaringan transmisi di Pulau Jawa.
Fakta radiasi SUTT/SUTET tidak berbahaya karena berada di bawah ambang batas juga sudah dibuktikan secara ilmiah oleh para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI).
"Jadi kami sudah jelaskan kepada para siswa yang mana jarak minimun dan yang mana ruang bebas. Supaya kita sama-sama tahu, supaya kita tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang mengatakan bahwa hidup di bawah jaringan SUTT/SUTET berbahaya," ucapnya.
PLN, kata dia, juga memberikan kompensasi kepada masyarakat yang berada di bawah jaringan transmisi. Nilai kompensasi tanah, bangunan dan tanaman di bawah jaringan transmisi yang disampaikan kepada masyarakat bukan dibuat oleh PLN, tapi oleh konsultan jasa penilai publik (KJJP).
"Kompensasi tanah dan bangunan berdasarkan keputusan menteri, maksimum 15 persen dari harga sesuai yang ditetapkan oleh KJJP. Jadi pakai apraisal bukan nilai jual objek pajak (NJOP)," katanya.
Selain mengharapkan dukungan para siswa, PLN UIP XI Jaringan Nusra juga menyampaikan kebutuhan sumber daya manusia untuk mendukung program pembangunan kelistrikan 35.000 MW serta program beasiswa dari PLN yang bisa dimanfaatkan oleh para pelajar SMA Negeri 1 Mataram. (*)
Pewarta :
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PLN perkuat keandalan transmisi Sumbawa, jaga pasokan listrik selama Ramadan
28 February 2026 20:07 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024