Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan realisasi penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 100 persen dari yang ditargetkan oleh pemerintah sebanyak 6,19 juta ton selama tahun 2023.

“Pupuk Indonesia berhasil memenuhi 100 persen target penugasan pemerintah dengan menyalurkan 6,19 juta ton pupuk bersubsidi kepada petani,” kata Rahmad di sela Buka Puasa Bersama Media bertajuk Kinerja Berkelanjutan Pupuk Indonesia di Jakarta, Senin.

Rahmad juga menyampaikan bahwa saat ini pemerintah menugaskan untuk menyalurkan pupuk bersubsidi di tahun 2024 sebanyak 9,5 juta ton. Ia mengaku siap memasok pupuk tersebut guna mewujudkan swasembada pangan nasional.

Menurut Rahmad, alokasi tersebut sama dengan jumlah penyaluran pada tujuh tahun lalu yakni 2017. Dimana saat itu, dengan jumlah alokasi pupuk tersebut Indonesia bisa mencapai swasembada pangan.

“Lalu pertanyaannya Pupuk Indonesia apakah mampu atau enggak? Sangat mampu karena dari 9,5 juta ton yang menjadi alokasi pupuk subsidi tahun 2024, 5 juta tonnya adalah urea,” ujar Rahmad.
 

Ia menjelaskan dari 9,5 juta ton yang ditugaskan pemerintah untuk menyalurkan pupuk bersubsidi, 5 ton merupakan pupuk urea sedangkan 4,5 juta ton lainnya merupakan pupuk NPK.

Rahmad mengaku optimistis bisa menyalurkan target tersebut karena pihaknya akan memproduksi 8,5 juta ton pupuk urea sepanjang tahun 2024, ditambah stok saat ini mencapai 1,5 juta ton sehingga jumlah pupuk urea yang akan dihasilkan sebanyak 10 juta ton. Sedangkan untuk pupuk NPK pihaknya akan memproduksi sebanyak 4,2 juta ton ditambah stok yang ada saat ini lebih dari 500 ribu ton.

“Dari 9,5 juta ton pupuk subsidi yang dialokasikan 4,5 juta ton adalah NPK. Sedangkan 5 juta ton adalah pupuk urea. Pupuk Indonesia siap untuk menyalurkan pupuk subsidi sebesar 9,5 juta ton karena produksi kita cukup dan kita punya stok yang memenuhi,” jelas Rahmad.

Rahmad menuturkan bahwa hingga 11 Maret 2024, Pupuk Indonesia sudah menyiapkan stok pupuk subsidi dan nonsubsidi sebesar 1,78 juta ton. Dengan jumlah stok pupuk subsidi dan nonsubsidi yang telah disiapkan, ia berharap mampu mendukung produktivitas pertanian Indonesia dan menopang ketahanan pangan nasional.

Rahmad menambahkan pada 2023 Pupuk Indonesia berhasil merealisasikan 18,8 juta ton hasil produksi, yang terdiri dari pupuk 11,6 juta ton dan non-pupuk 7,1 ton.

Ia mengaku berbagai upaya juga dikerjakan guna memastikan proses distribusi pupuk berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Mulai dari digitalisasi proses penebusan pupuk menggunakan aplikasi I-Pubers (Integrasi Pupuk Bersubsidi) serta berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan.

“Aplikasi I-Pubers sendiri merupakan hasil kolaborasi Pupuk Indonesia bersama Kementerian Pertanian (Kementan),” kata Rahmad.

Baca juga: Pembangun pabrik di Papua demi ketahanan nasional
Baca juga: Tim gabungan awasi penyaluran pupuk bersubsidi di Lombok Tengah

Aplikasi ini, lanjut Rahmad, ditujukan untuk memudahkan para petani dalam proses penebusan pupuk subsidi dengan menerapkan data yang terintegrasi di mitra distributor (kios) antara daftar penerima subsidi e-alokasi dengan data stok pupuk yang ada di Pupuk Indonesia.

Dia menyebut implementasi i-Pubers telah mencapai 100 persen secara nasional dan tersedia di lebih dari 27.000 kios di seluruh pelosok negeri. Menurut Rahmad pentingnya pupuk berbasis gas (nitrogen) dalam produktivitas pertanian tanaman pangan, karena mampu meningkat produktivitas hingga 56 persen.

“Jenis pupuk berbasis gas seperti urea dan NPK adalah yang paling banyak dibutuhkan oleh petani sehingga ketersediaan dan keterjangkauan harga gas bumi akan berpengaruh dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” jelas Rahmad.


 


Pewarta : Muhammad Harianto
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024