Tel Aviv (ANTARA) - Sekitar 100.000 pengunjuk rasa berkumpul pada Minggu (31/3) malam di Yerusalem dekat gedung parlemen untuk menuntut diberlakukannya pemilihan umum lebih awal di Israel dan dilakukannya kesepakatan segera guna membebaskan sandera di Jalur Gaza.

Unjuk rasa ini menjadi yang terbesar di Yerusalem sejak awal konflik antara Hamas dan Israel pada Oktober lalu, menurut laporan portal berita Ynet pada Minggu.

Baca juga: Pasukan Israel tahan 107 pasien di Kompleks Medis

Surat kabar Jerusalem Post melaporkan bahwa para pengunjuk rasa mengajukan tiga tuntutan utama – pemilu dini sebelum peringatan serangan Hamas terhadap Israel, kesepakatan mengenai sandera dan diakhirinya reses parlemen yang diumumkan baru-baru ini.

Para pengunjuk rasa mengatakan parlemen harus terus berfungsi sampai para sandera dibebaskan dan ribuan warga Israel yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik kembali ke rumah mereka, tambah laporan itu.

Baca juga: Presiden Palestina Mahmoud Abbas tuntut Israel segera mundur dari Gaza

Para pengunjuk rasa memblokir jalan dan bentrok dengan polisi, lapor surat kabar itu.

Sebelumnya pada Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pemilihan umum dini di Israel akan melumpuhkan negaranya dan bakal membekukan proses negosiasi untuk pembebasan sandera.

Baca juga: Gencatan senjata di Gaza krusial di tengah ancaman kelaparan
Baca juga: Bencana kelaparan jadi senjata Israel di Jalur Gaza

Sumber: Sputnik


 

Pewarta : M Razi Rahman
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2024